Jika saja aku tahu bagaimana harus memulai cerita yang berjudul perpisahan. Aku bukanlah orang yang lihai menceritakan perpisahan, aku juga bukan orang yang pandai merangkai perpisahan menjadi bait-bait seolah perpisahan itu baik. Pada hidup, yang selalu berkata suka atau tidak terimalah aku dengan segala kemurahan pertemuan, runyamnya kebersamaan lalu pahitnya perpisahan. Hidup berhembus sesukanya, mengantarkan atau menjemput, mendamaikan atau memisahkan, ia tak pernah mau diatur, seperti anak kecil yang sangat riang bermain dengan mainan barunya, hanya saja, kitalah satu-satunya mainan kehidupan. Hidup terlalu curang, pikirku. Selalu saja ia ingin dimengerti sedangkan ia tak pernah mau mengerti kita. Kalaupun kalian merasa dimengerti olehnya, membantu menerbangkan duka kalian ketempat bahagia, percayalah itu hanyalah bonus atas ketabahanmu.
Merpati yang diterbangkan untuk sekedar mengantar sepucuk rindu, dibungkus rapi dengan kertas putih diutarakan melalui rangkaian tinta hitam, suatu saat pasti kembali seberapapun jauh rentang perindu tabah itu saling berharap dan menunggu. Aku mendongakkan kepala, adilkah semua ini ? tanyaku. Dengan segala teka-teki yang tak perlu ditebak tetapi hanya perlu dijalani. Perkara sekali pertemuan yang harus dibayar dengan ketabahan rindu yang bertahun-tahun lamanya. Atau perihal kebahagian yang harus dipisahkan, apa engkau tak senang melihat mereka berbahagia selamanya ? mengapa harus dibuat pahit lagi cerita yang telah manis, membuat mereka pergi lagi keruang kosong tanpa siapapun disana, duduk berharap sembari menunggu, lagi, lagi lagi, dan lagi.
Kita lahir hanya sekedar bermain, tertawa bahagia kemuadian jatuh terluka. Pilihan kalian mau mati kapan saja, saat bermain, bahagia, atau berduka. Tapi tetap saja kehidupan pegang kemudi, ini memang kapalmu, tapi bukan kamu nahkodanya, ingat itu.
Siapa saja dapat menulis dan menceritakan cerita pahitnya, bahkan anak kecil yang maju ke depan kelas menceritakan pengalamannya terjatuh dari sepeda berkali-kali, hingga ia akhirnya dapat bercerita ‘sudah bisa naik sepeda’ sambil tersenyum, karena ia bangga. Apa semua bahagia setelah sakit memiliki zat kebanggaan tersendiri, membuat kita sadar selama ini pahit yang kita rasakan adalah jalan setapak yang ditumbuhi tumbuhan berduri; pada ujung jalan akan disuguhkan pemandangan indah yang tak pernah membosankan untuk dinikmati setiap detiknya.
Aku tak pernah tahu cara mengakhiri cerita perpisahan, karena saat ku memulai, segalanya telah berakhir. Mungkin suatu saat aku akan menulis cerita perpisahan yang membanggakan, karena aku telah sampai diujung jalan, mungkin saat itu aku bahagia selamanya mengalahkan kehidupan.



0 Bisikan:
Posting Komentar