26 Nov 2015

Wanitaku




Aku ingat pernah mengeja rinduku kedalam bongkahan gengsi yang besar. Hanya saja, belum saatnya kutunjukkan padamu kasih, tapi sekarang kucoba mengingat-ingat karena mungkin kini waktu yang tepat.

Teruntuk wanitaku dikejauhan, terima kasih telah membuat senyumku lebih lebar saat angin laut menerpa wajahku, terima kasih telah membuat jantungku berdebar lebih kencang ketika kakiku melangkah menjauh darimu, terima kasih telah melukiskan air mata rindu ketika hujan luruh keseluruh tubuh hingga tanah basah menghapus jejak kemarin. Wanitaku, terima kasih karena rinduku pada kotamu telah semakin kuat hingga aku sadar kau lah rumah untukku.

Sesungguhnya jarak, waktu, dan pengorbanan hanyalah angka, sementara perasaan kita yang tak akan pernah bisa dihitung, dan pada kenyataannya, pertengkaran, memaafkan, dan pelukan adalah yang membuat kita kaya. Usah kau risau, aku akan kembali ke kotamu. Tidakkah kau sadar, setiap langkah ku menjauh dari hadapanmu, selangah pula aku semakin dekat siap memelukmu dari belakang, begitulah yang ku ingat dari pelajaran geografi pada saat SD, bumi ini bulat. Bersabarlah hingga aku utuh menjadi milikmu, begitupun aku yang bersabar demi dirimu dan kita.

Hingga ibu membangunkanku, menegurku karena dalam tidur aku tetap saja menyebut namamu. Ibuku berkata, cintai seperlunya sehingga kau tak akan kehabisan cinta esok hari. Bahagia seperlunya agar bukan kesedihan yang tersisa esok. Jika ia bahagiamu, terimalah saat ia menjadi duka dan luka.

1 komentar: