Saat kehilangan, ada yang suka menyendiri, tapi tak sedikit lebih suka mencari tawa ditempat lain sekedar menghapus air mata. Menikmati sakit atau berpura-pura bahagia dalam sesakitan.
Aku sepertinya tipe munafik, lebih menyukai tertawa saat bersedih, meninggalkan sepi didalam kamar dam sebisa mungkin aku tak masuk kesana. Membayar kesibukan seberapapun mahalnya, seberapapun melelahkannya. Tapi, kebahagiaan itu hanya akan bertahan didalam keramaian, seperti menangis didalam hujan. Hanya sekedar berkamuflase, tetapi saat sepi berkunjung, tawa seketika sirna. Menangis, sepertinya wajar karena setiap raga dititipi satu hati untuk saling mengisi dan melengkapi, apa jadinya jika kesepian atau kesakitan. Menangis adalah ritual yang menunjukkan sedang terjadi luka disana, sekaligus obat pereda rasa sakit itu sendiri.
Pernah kubaca, rasa sakit hati hanya bertahan sekitar satu jam, selebihnya adalah perasaan yang dibuat-buat oleh pikiran dan hati agar terus mengingat kemudian kembali ke menit pertama satu jam tersebut.
Ibuku pernah bercerita, saudara jauhnya menikah dengan seorang pengusaha. Mereka saling mencintai dan saling percaya satu sama lain meskipun suami sering bepergian keluar kota, mereka dikaruniai 2 orang putra putri yang telah tumbuh dewasa.
Pada suatu hari, datang kabar bahwa pesawat yang ditumpangi oleh suaminya jatuh. Saudara ibuku bergeming dan tak juga menangis, ia masuk kedalam kamar dan mengunci dari dalam. Anak-anaknya menguping dari pintu, mendengarkan ibunya menangis nyaring hingga hati mereka merasakan sakit yang sama.
Setelah satu jam menangis, saudara ibuku keluar kamar seperti tak terjadi apa-apa, seperti tak pernah bersedih beberapa saat lalu. Mengobrol asik dengan anak2nya diruang tv dan menyiapkan makan malam. Kemudian suaminya pulang, ternyata suaminya tak menaiki pesawat yang jatuh itu karena terlambat. Saudara ibuku yang membukakan pintu meninggal saat itu juga, menurut analisa dokter, ia meninggal karena terlalu bahagia mengakibatkan serangan jantung.



0 Bisikan:
Posting Komentar