11 Jun 2016

Secuil Rindu

Kamu tidak mencintainya, kamu hanya kesepian. Tak ada lagi ia yg bersandar di bahumu atau merengek di dekat telingamu. Tak ada lagi ia yang manja meminta di rapikan rambutnya, mengusap kepalanya. Meminta dengan mimik lucu untuk dicium keningnya. Kamu hanya kehilangan, hanya kehilangan beberapa kebiasaan yang sering dilakukan berdua. Tentu saja sangat menyebalkan jika harus terlalu lama menahan rindu.
Membenamkan kepala dalam-dalam berharap air mata menghanyutkan semua sepi, kehilangan dan rindu yang entah sampai kapan.

Menangislah, aku tahu semuanya itu menyakitkan, air mata tak menandakan hal itu lemah, esok mungkin kamu akan lebih kuat dari sekarang.

Kamu tidak mencintainya.

Ah aku bosan dengan kalimat itu, bertingkah seolah hati dan kepala selalu bertolak belakang, bertingkah seolah yang kukatakan tak pernah di-iya-kan oleh hati. 

Pada kenyataannya Aku mencintaimu, ini Minggu ke-29 tanpamu, tanpa senyumanmu. Aku terlalu takut untuk melupakan semuanya, tahukah saat kau tertidur pulas, hampir setiap malam ku memandangi wajahmu, membelai setiap lekuk wajahmu, hanya sekedar berjaga-jaga jika suatu saat kau tak lagi disampingku. Sedikit banyak, jemariku lebih mengenalmu daripada sepasang mata ini. 

"Selamat tinggal kekasihku, aku yang dulu mencintaimu"
Itu kalimat perpisahan yang menyakitkan terucap dari hatimu.
Setidaknya hingga sekarang kalimat perpisahanku masih tersimpan rapih di tumpukan perasaan kehilangan yang kamu berikan.

"Pulanglah jika rindu, aku selalu menantikan kepulanganmu. Aku yang masih mencintaimu"

2 komentar:

  1. Untuk apa brother masih menantikan kepulangan hati yang setidaknya pernah menggoreskan sedikit dalam luka mu.

    BalasHapus
  2. Jika rindunya datang sebagai tamu, apa kau masih tega dengan perasaanmu?

    BalasHapus