23 Jan 2014

Because Of You

Saira Ukira Putri itu nama ku, nama yang di berikan orang tua ku pada tanggal 19 februari 1993 tepat saat hari kelahiran ku, nama yang selalu mengingat kan ku pada sosok kedua orang tua ku. Ayah meninggal karena terinfeksi virus dan mama memutuskan bunuh diri karena tidak kuat menjalani kehidupan tanpa ayah.
“mama saja tidak sanggup hidup tanpa ayah, jadi aku pun tidak ada alasan untuk sanggup hidup tanpa ayah dan mama”.
Tapi aku tak pernah sekali pun berfikir demikian, dan tak pernah sekali pun berfikir untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri, aku tidak serapuh mama dan aku akan tetap hidup sampai napas ini berhenti dengan sendiri nya . 
          Jam di kamarku menunjukkan pukul 22.00 WIB mata ku tetap enggan untuk terpejam, sekarang  paman dan bibi yang menemani ku tinggal di rumah ini, ingatan ku kembali ke masa satu tahun yang lalu, dulu hidup ku begitu sempurna, aku layak nya seorang  putri di istana megah yang di bangun orang tua ku. Ayah adalah seorang peneliti dan mama seorang ibu rumah tangga yang membuat kehangatan di keluarga ku sangat terasa, tapi semua itu berakhir sejak ayah terinfeksi virus WDTW-1902 yang sedang di teliti nya, virus tersebut dapat menginfeksi saraf pusat, hanya itu yang kutahu, pada awalnya semua organ tubuh ayah tidak dapat berfungsi lagi, tetapi mama dengan sabar mengurusi ayah, hingga kecelakan itu terjadi, kecelakan yang hampir merenggut nyawa ku, dan pada saat itu aku tidak mendapatkan donor darah untuk operasi yang cocok untuk ku dan satu-satu nya orang yang dapat membantu ku adalah ayah. Ayah mendonorkan darah nya untuk menyelamat kan putri tunggal nya, dan al-hasil aku dapat bertahan hidup hingga sekarang, tetapi ayah sang penyelamat hidup ku meninggal kan ku untuk selamanya nya, saat itu tidak ada yang berfikir tentang infeksi virus dari ayah akan menular pada ku, yang di pikir kan hanya keselamatan ku saja saat itu .
            Setelah satu bulan ayah di kebumikan, baru lah semua orang sadar jika virus WDTW-1902 akan menular pada ku, tetapi semua telah terlambat. Belum lagi sembuh duka ditinggal ayah mama mengalami pukulan yang sanagat hebat yaitu anak tunggal nya terifeksi virus yang sama dengan virus yang telah  merenggut nyawa suami nya. Itu lah yang menyebab kan mama memutuskan untuk mengakhiri hidup nya dengan cara memotong nadi nya.
            Air mata ku mengalir deras “mama kenapa ninggalin saira sendirian ?“ batin ku dalam hati,
entah jam aku berhenti menangis hingga akhir nya aku terlarut dalam mimpi-mimpi ku.
Ahg,,,ahgga,,ahhharrg..rrrr..Arrrr...arggg..arrrr....arr...... aggrrr..
            “Saira ..bangun, bangun, kamu mimpi buruk nak ?” suara bibi membangunkan ku,
 “aku bermimpi aku tidak dapat menggerakkan tangan ku, aku tidak dapat berjalan, aku takut bi ” keluh ku sembari memeluk bibi ku dengan ketakutan,
Bibi pun menangis “saira tidak usah takut itu hanya mimpi“ jelas nya sembari memasangkan selimut ku lagi, kemudian aku kembali tertidur.
            Beep.. beep.. 1 pesan di terima, begitu lah tertulis di layar ponsel ku, ahh siapa sih sms pagi-pagi pikir ku, tapi sudah sering terjadi, aku merupakan siswa yang cukup populer di sekolah hampir semua orang mengenal ku, bukan sombong tapi begitu ada nya, ku tekan tombol “baca“ di layar ponsel ku, ternyata dari no tidak di kenal, no yang tiap pagi mengirim kan ku seutas doa dan sampai sekarang aku tidak tau siapa dia sebenar nya “met pagi saira , semoga hari mu menyenangkan“  itu sms yang ku terima dari nya aku tak berniat membalasnya, toh aku juga tidak kenal, aku sudah beberapa kali bertanya identitas nya tapi dia tidak mau jujur “ya sudah“.
            Bergegas ku bersiap-siap berangakat kesekolah, tidak lupa berpamitan pada paman dan bibi.
Di sekolah aku telah di tunggu oleh dua sahabat baik ku, Raihan ardiansyah dan Aziza Oktafia, aku perkenal kan dua sahabat baik ku ini, Raihan adalah tipekal cowok yang anti cewek, tidak tau apa alasan nya tapi sikap dingin membuat dia belum punya pacar sampai sekarang alias JOMBLO, entah siapa yang sanggup mencair kan gunung es ini, sedangkan Aziza tipekal cewek yang gampang banget jatuh cinta tapi gampang juga putus.
            “Udah lama nunggu ya?” tanya ku basa-basi,
“BELLOMM” teriak mereka hampir bersamaan, aku hanya tersenyum aku tau itu wujud kekesalan mereka karena udah lama menunggu ku,
“tuan putri memang harus di tunggu“ jawab ku sekena nya,
“YEEEE” celetuk mereka sewot.
            Kami berjalan bertiga menuju kelas, tiba-tiba kepala ku terasa pusing, penglihatan ku mulai samar-samar, apa yang terjadi dengan ku? setelah itu aku tak ingat apa-apa.
“dimana aku?” itu kalimat yang pertama ku tanyakan,
samar-samar kulihat wajah khawatir raihan, wajah cemas Aziza, dan wajah sedih Igo, oh iya lupa memperkenal kan cowok satu ini, Akbar Igo Syaputra adalah cowok yang dari dulu gencar mendekati ku dan mala petaka nya aku juga suka dia.
            Aku mencoba untuk  duduk tapi ada yang kurasa aneh “kaki ku kenapa ?” tanya ku ketakutan, aku tidak merasakan apa-apa dengan kaki ku, aku seolah-olah tidak punya kaki,
            “kenapa dengan kaki mu, apa yang  Saira rasakan ?” tanya Igo sangat khwatir,
“aku tidak tau go ? tolong aku ?” keluh ku takut, Raihan juga hendak berpendapat tapi kelihatannya igo tidak memberi nya kesempatan untuk bicara bahkan hanya untuk memegang kaki ku.
            Raihan segera menelpon ambulan, Igo dan Azizah ikut mobil ambulan sedang kan Raihan dan seorang guru mengikuti dengan sepeda motor milik raihan.
Setiba nya di rumah sakit aku langsung mendapat penanggan yang intensif, dan hal yang selama ini aku takut kan terjadi infeksi virus WDTW-1902 telah menyerang saraf pusat ku hingga aku lumpuh, ya, Saira Ukira Putri lumpuh, dan sekarang semua orang tau jika aku terjangkit virus berbahaya, walau virus tersebut tidak menular tanpa pertukaran meterial genetik seperti darah tapi ini tentu sanagat mempengaruhi  pandangan teman-teman terhadap ku.
            Setelah keluar dari rumah sakit, aku sekarang mengunakan kursi roda, paman yang selalu mengantar ku kesekolah, di sekolah sikap Raihan dan Azizah tidak berubah tapi sikap Igo sangat berbeda, bahkan dia tidak menyapa ku saat kami bertemu, aku tak tau apa alasan nya.
Suatu hari di sekolah saat ku sedang menuju kelas ku agak terlambat aku sangat terburu-buru tapi al-hasil roda korsi roda ku tersangkut aku telah berusaha membenarkan tapi tidak bisa, tidak ada siapa pun disana, koridor sekolah sepi karena semua orang telah masuk, dan ternyata Igo sedang lewat, “dewi fortuna sedang berpihak pada ku“ pikir ku,
“go tolong aku !!“ sapa ku,
kemudian ia melirik ke arah ku bukan nya membantu ku dia malah pergi seolah tidak melihat apa-apa, hati ku seperti disambar petir, Igo sudah tidak peduli lagi pada ku, tapi ku sadari sekarang aku bukan nya Saira yang populer aku hanya Saira yang di jauhi semua orang karena virus berbahaya, aku bukan Saira yang punya banyak teman lagi sekarang, aku hanya Saira yang punya 2 teman, selang beberapa saat setelah itu,
“saira, kenapa kamu disini bukannya kamu masih sakit?”
“aku tidak apa-apa raihan“ kata ku sambil menangis, mata Raihan berbinar-binar melihat ku, segera dia membenarkan korsi roda ku, di tatap nya dalam mata ku,
“saira, kamu tetap saira yang dulu, tetap saira yang cantik, tetap saira yang mengagumkan untuk ku“ aku hanya terdiam mendengar perkatan raihan,
“saira kamu ada lah keindahan yang tak terlihat karena sebenarnya keindahan itu memang tak terlihat jadi apa pun yang orang kata kan tentang mu dan sebanyak apa pun  orang yang menjauhi mu anggap saja mereka tidak melihat keindahan mu“ dia melanjutkan kalimatnya, sejenak perkataan raihan membuat ku terpaku,
“saira aku janji akan temukan vaksin dari virus itu, aku janji“ ungkap nya .
            Sejak kejadiaan itu hingga aku lulus SMA Raihan tetap menemaniku, Raihan melanjutkan kuliah kesalah satu berguruan tinggi negeri ternama di kota ku, Raihan mengubah cita-cita nya dari seorang insinyur menjadi ahli mokrobiologi dan meneliti tentang virus WDTW-1902, dan tentang hubungan ku dengan Raihan, kami sudah resmi pacaran ternyata saira ukira putri lah yang mampu mencairkan gunung Es Raihan, Raihan juga memakai laboratorium milik ayah ku dulu, Raihan berkerja sangat keras untuk menemukan vaksin virus WDTW-1902.
            Hari ini Raihan sangat sibuk “tidak kah dia ingat bahwa besok ada lah hari ulang tahun ku” keluh ku dalam hati, tiba-tiba raihan keluar dari laboratoriun milik ayah ku, langsung menghampiri ku yang hanya dapat melihat nya dari kaca, soal nya raihan sangat melarang ku untuk masuk ke laboratorium “BERBAHAYA “ katanya,
”saira aku sanagat sibuk hari ini jadi maaf jika aku tidak dapat menemani mu” jelas Raihan,
aku tercengang, apa raihan tidak ingat besok hari ulang tahun ku,? tapi ya sudah lah pikir ku. Setelah berkata seperti itu raihan kembali ke laboratorium. Sepeninggal Raihan aku merasa ada yang aneh dengan ku, nafas ku sesak,
“tuhan ku mohon beri aku waktu lebih lama lagi untuk dapat bernafas, aku mohon beri aku sedikit waktu lagi untuk dapat berada di samping Raihan“ doa ku dalam hati,
“saira kamu kenapa nak ? tanya bibi menghampiri ku“ dengan panik bibi langsung hubungi rumah sakit,
“bibi tolong jangan ganggu Raihan, jangan beri tau keadaan ku pada nya“ kata ku dengan tenaga yang tersisa.
            Setelah ku berada di rumah sakit, paman dan bibi berjanji pada ku untuk tidak memberi tau Raihan, mereka hanya mengatakan pada Raihan jika aku pergi ketempat keluarga ku, Raihan pu tidak curiga.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ku punya, aku menulis surat untuk Raihan, baru beberapa kalimat ku tulis, hp ku berbunya dengan irama ,, beep..beep,, 1 pesan di terima, bibi yang mengambilkan hp ku dan memberikan nya pada ku, ternyata dari Raihan
“selamat pagi saira, gak ada kamu di rumah ini aku jadi kangen? aku mau jujur ni, sebenar nya yg selama ini mengirim kan sms ke kamu di setiap pagi itu adalah aku, aku benar-benar menyukai mu saira, dalam keadaan apa pun tetap bertahan untuk ku ya.“
Sms Raihan benar-benar mengagetkan ku, Raihan, aku juga, “sangat ingin bersama mu” batin ku dalam hati. ku selesaikan menulis surat untuh Raihan, aku merasa kehidupan ku akan berakhir entah kenapa aku sampai berfikir seperti itu.
“maaf kan aku Raihan membuat mu mengabiskan semua waktu yang kau punya hanya untuk ku dan mungkin berakhir sia-sia“ batin ku menangis
            “Bibi serahkan surat ini pada Raihan jika suatu saat nanti aku tidak ada lagi“ mendengar ucapan ku bibi langsung memeluk ku,
“saira kenapa berkata begitu ?” ku hapus air mata di wajah bibi ku,
“bibi kenapa menangis? sebentar lagi aku akan bertemu dengan ayah dan mama di surga bi, surga yang indah, harus nya bibi bahagia , aku sama sekali tidak sedih bi, berbahagia lah bersama ku“ pelukan bibi kurasa semakin erat,
entah kenapa tiba-tiba aku melihat cahaya, cahaya yang terang ada ayah dan mama terlihat di sana, ku genggam erat tangan kedua orang tua ku,
“mama dan ayah tidak boleh tinggalin saira lagi“ keluh ku,
“iya sayang, kita akan bersama-sama selama nya di sini“
            “saira ... bangun sairaaaa..” suara bibi memekik histeris.

“Call Saira Sayang” aku mencoba menelpon Saira, setelah beberapa kali menelpon tanpa ada jawaban kuputuskan untuk mengirimkan pesan singkat,
”Selamat ulang tahun yang ke 20 Saira, aku telah berhasil menemukan vaksin nya, aku akan segera datang dan membawa vaksin untuk virus WDTW-1902 untuk mu sesegera mungkin, dengan begitu kamu akan hidup tenang di samping ku selamanya, pekerjaan ku selama ini tidak sia-sia , terima kasih telah memberikan ku kekuatan sebesar ini hingga semua ini berhasil, you are my inspiration”
Tak lama setelah ku mengirimkan sms, handphone ku berbunyi “Saira Sayang” itu yang tertera pada layar ponselku.
“Hallo sayang” suaraku sangat bersemangat,
“Nak, ini bibi dirumah sakit, berdiri tepat disamping Saira, Saira sekarang sudah menyusul kedua orang tua nya, kamu yang tabah ya”
Langsung kumatikan ponselku, aku langsung bergegas menuju rumah sakit, bodohnya aku lupa bertanya di rumah sakit mana Saira berada, kupacu sepeda motorku secepat mungkin menuju rumah sakit yang biasa merawat Saira selama ini.
            Kue ulang tahun dan vaksin virus WDTW-1902 ku bawa bersama ku, hati ku tetap tidak percaya bahwa Saira telah tiada, setiba nya di rumah sakit, ku melihat Saira dengan wajah pucat, dengan jantung yang tak lagi berdetak, dengan nafas yang tak lagi berhembus  di balut dengan kain putih,
“SAIRA...... kenapa ? kenapa ? kenapa secepat ini“ teriak ku.
hari berikut nya Saira telah di kebumikan, tapi hati ini tetap tak terima,
”Raihan, ini baca lah semoga bisa membuat mu tenang” keluh bibi yang masih berduka, ku terima kertas berwarana putih yang terlipat rapi itu,
“saira menulis nya di saat-saat terakhir nya“ kata bibi sambil mengeluarkan air mata “dia anak yang hebat“ sambung nya lagi, aku tak ingin berkata apa-apa, ku buka kertas tersebut perlahan.                                        
Dear Raihan
 Hapus tu air mata mu ,cowok kok cengeng .
        Raihan  saat kau membaca surat ini aku telah bersama mama dan ayah ku, tentu nya di surga yang indah, andai kau ada disini pasti kau tau betapa bahagia nya aku , ada di antara orang tua ku, dan satu hal yang pasti aku tidak harus mimpi buruk lagi karena virus yang mengerikan itu, aku sanagat bahagia jadi jika kau benar-benar menyayangiku , berbahagia lah disana, aku sangat tidak senang melihat kecengeng-an mu itu .
        Maaf jika aku menghabiskan sekian banyak waktu mu, kau harus tetap hidup dan jangan sia-sia kan waktu mu hanya untuk menangisi kepergian ku, jangan biarkan seseorang merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan saat ini, hanya kau yang mampu lakukan itu.
Just a note : jangan menangisi ku lagi jika kau tak berhenti menangis aku akan pergi lebih jauh lagi dari ini .                                                                                                                                                                                                                                  Watching you from heaven,
                                                                                                                                                                                                                                                                              Saira
Dasar Saira, di saat sakit dia masih bisa menulis surat terakhir seperti ini, entah ini surat apa, surat perpisahan atau kah surat ancaman,? aku akan lakukan yang terbaik untuk semua orang dan sesuai permintaan mu, tak kan ku biar kan siapa pun merasa kan rasa sakit seperti yang kau rasa kan.
Dan andai kau tau semua keberhasilan ku saat menemukan vaksin ini  semua “KARENA MU “, dan semua keberhasilan yang nanti akan ku capai semua juga “KARENA MU“ ucap ku dalam hati, ku tatap foto Saira di dinding, foto nya tersenyum seolah memberikan ku isarat agar aku tersenyum juga
”Saira aku mencintai mu”


NB: Ditulis oleh Shilvie Zhi Zevira

0 Bisikan:

Posting Komentar