Ragaku mungkin telah beku
Bukan karena dinginnya hati
Bukan pula karena sikapmu
Terus menanti hangat pelukan
Menanti rindu pada peluk setiap mimpi
Menangis lagi saat terjaga
Datang
Datanglah pada raga beku ini
Jangan paksa si tuan rindu
Terus terjaga pada saat terpejamnya mata.
Aku tau kita saling merindu, berbagi doa agar selalu baik-baik saja, mungkin bukan masalah ego tembok besar yang ada diantara kita, tapi ragu apa benar itu kamu yg dibalik kabut tebal menutupi bahagia duka benar dan salah, terus saja bertanya tanpa mencari tau, begitulah kita sepasang perindu handal yang terus berperan menjadi pengecut.
Bukannya raga kita telah sesak akan kalimat rindu yang dikubur dalam-dalam bersama tawa bahagia, lalu pada akhirnya meneteskan air mata, apa sulitnya menyampaikan.? Tapi aku telah bisu, bibir bergeming, sedangkan kamu menutup rapat telingamu tak lagi percaya kalimat omong kosong ku, tak percaya lagi janji bahagia tawa dan cinta, aku tak pernah merasa mengertimu karena itu selalu kukatakan, "aku mencintaimu tanpa aku pernah tau mengapa dan apa", lantas mengapa kamu terus saja bertanya? Jika ada ragu, peluk saja aku, jika ada sendu bersandar padaku, jika ada yang lebih baik dari aku itu hak mu.
Aku bisa menjelaskan logaritma ataupun kalkulus secara jelas dan lengkap hingga kau mengerti, saat ada yang tak ku mengerti, ku bisa belajar lagi pada buku hingga berguru, tapi saat kau memintaku menjelaskan dirimu dimimpiku dan artimu bagiku aku tak punya jawabannya, aku tak punya bukunya, dan tak ada gurunya, jangan salah sangka, bukannya dirimu tak pernah berarti bagiku, tapi saat bersamamu, harus seperti apa kubagambarkan bahagia yang terlalu berlebihan mengalahkan bias cahaya senja yang selalu kunikmati tanpa rasa jenuh?.
Bagaimana jika kugambarkan kau adalah segalanya, aku merasa hina menggambarkan bahwa mencintamu melebihi cintaku pada sang pencipta.
Bagaimana jika tak pernah ada kata perpisahan, tetapi terus saja kita dilumat oleh rindu, memaksa pantas pada rasa sakit yang kita kenakan, berpisah adalah jalan, embun pagi yang terus dirindukan rerumputan dan mentari yang terus dirindukan gelap.
Tuhan punya rencana lain pada setiap rindu dan perpisahan, aku tak pernah menyesalimu atau bahkan mengutuk diriku sendiri, harapku mungkin bertemu pada saat bahagia menari pada hati kita masing-masing, pernikahan kita, atau perjodohan anak kita kelak jika kita tak berjodoh.
"Tuhan merawat rindu kita kemarin, sekarang hingga nanti".



0 Bisikan:
Posting Komentar