25 Sep 2014

Katamu, Kita Impas

Tawa bersama sahabat saja saat ini kurang cukup untuk mengubur luka ditinggalkan saat raga masih tenggelam di lautan masa lalu. Tuhan yang maha asyik memang paling tau caranya menegurku dengan kebahagiaan dalam keserakahan yang tiba-tiba dikandaskan.

“@ Padang Bulan Coffe shop” kira-kira begitu statusnya yang kubaca dari Recent Update BBM di kontakku.
“Kamu di PB ? sama siapa ? kalo sendiri, aku boleh kesana nggak” ? aku yang baru saja mengenalnya belum genap seminggu ini mulai mengalahkan sisi cerewet yang sudah seharusnya digariskan menjadi sifat dasar wanita.
“iya, kesini aja, aku sendiri kok, kamu kok cerewet sih J” Benar apa yang kupikirkan, dia menganggapku cerewet, sial.

Meja no 2, kulihat dari kejauhan Poppy duduk di meja andalanku, ah sepertinya kami memang berjodoh pikirku. Senyumannya menyambut hangat kedatanganku yang sedikit memaksa ini, pada matanya kulihat senyuman yang ia berikan berada dalam keterpaksaan, entahlah.

“Kok sendirian” ?
“iyanih, kebetulan kamu dateng buat nemenin”
“kalo ada yang mau diceritain, aku siap dengerin kok”

Rasa ingin tahuku sangat besar mengalahkan rasa perduli yang seharusnya hadir disaat ia membutuhkan bahu untuk menangis deras. Darinya aku tahu bahwa aku datang pada saat yang tepat, sudah 2 bulan ini ia belum bisa melangkah, meninggalkan masa lalu yang begitu saja meninggalkan tanpa ada kata perpisahan. Aku hadir disaat ia membutuhkan tissue untuk menghapus air matanya, ia membutuhkanku, karena kudengar hanya kakak lelakinya lah yang selama ini menjadi tempatnya menangis dan bersandar.

Anam, nama lelaki yang selalu dibahas Poppy dengan sangat antusias dan penuh semangat. Aku selalu ingin bertemu dengan Anam yang katanya kakak kandung Poppy ini. Banyak yang ingin kutanyakan, karena aku tahu batasan Poppy mendongeng padaku perihal masa lalu. Tapi biarlah ia merasa nyaman denganku saat ini, hingga menceritakan segalanya nanti, biarlah saat ini aku hanya menjadi pelampiasan tangisnya saja. Jujur aku sedikit menaruh cemburu pada Anam, ah, pemikiran macam apa ini. Setidaknya Anam tak dapat menikahi Poppy seberapapun dekat mereka, aku sedikit lega.

Sebulan ini, kepalaku adalah kasur yang empuk baginya, bermalas-malasan disana hingga ia terlelap. Menarik selimutku saat ia merasa gigil akan masa lalunya, Menikmati rasa nyaman yang kuhidangkan dengan lahap. Aku sampai tahu kebiasaan, alamat, hingga masa lalunya. Karena kepalaku tempat ternyaman untuknya bercerita, sekarang.

‘Wan, besok sore jogging yuk, jemput aku di kost ya. Pokoknya harus mau’ Ajakannya yang memaksa itu sedikit menggelitik perutku.

***

Aku datang pukul 16.00, kepagian untuk melakukan ritual jogging sore, aku akui sebagai lelaki jantan, aku terlalu bersemangat. Poppy mempersilahkanku masuk dan menunggu. Aku sedikit terkejut saat Poppy keluar tanpa celana training atau hotpans seperti yang kuharapkan, ia keluar dengan kaos oblong, celana santai, membawa sepiring tumis kangkung, soup dan ayam goreng lengkap dengan karbohidrat khas Indonesia. Baru aku sadar, jogging hanyalah sebagai alibi yang digunakan agar aku mengunjungi dan mencicipi masakannya. Masakannya tak buruk, tak buruk bagi wanita-wanita yang sedang merawat kulit dan sejenisnya. Masakan hambar pun kukatakan nikmat, semuanya hambar, tapi aku bisa makan dengan lahap. Cinta membunuh indera perasaku, esok ia mungkin akan membunuh indera pengelihatanku. Seusai membantunya mencuci piring, pekerjaan yang seharusnya pantang untuk kukerjakan. Tak terasa jam tanganku telah mengusirku pergi dari tempat ini, jika ingin dicap sebagai pria baik-baik. Poppy hanya tinggal sendiri di kontrakannya, sesekali Anam berkunjung untuk menanyakan kabar dan keadaanya, Poppy memaksaku untuk menginap semalam. Mulut bajinganku mengiyakan dengan cepat sebelum malaikat sok baik didalam ragaku terbangun. 

Semalaman kami terjaga, Poppy yang sibuk mengenang lewat air mata, aku lebih sibuk menenangkannya. Sekali lagi aku iri, tapi sekarang aku iri pada mantannya yang sampai sekarang tak disebutkan namanya. Mungkin air matanya telah habis, hingga ia sekarang benar-benar terlelap dibahuku saat matahari mulai terbit. Menangis semalaman memerlukan energi yang besar ternyata, mungkin bisa digunakan sebagai pembangkit listrik tenaga masa lalu pikirku. 1 jam, 2 jam, bahuku mulai pegal, kurebahkan tubuhnya dikasur, mataku sibuk menikmati kecantikan Poppy, kepolosannya. Aku mengira mitos wanita terlihat sangat lugu dan menawan pada saat tidur itu hanyalah bualan para penulis, sialan, ternyata para penulis telah melihat banyak Poppy yang sedang terlelap.

“Selamat pagi” ucapku sambil tertawa menyambut kedatangan Poppy dari perjalanan singkat mimpinya.
“uummmm... pagiiii, jam berapa ini? Aku ketidurannya lama ya”?
“jam 2 siang, nggak kok”
“makasih yah, kamu pasti laper, aku masakin ya”
“makasih buat apa? Tau aja kalo aku udah laper, masakannya tambahin garam ya”
“makasih pokoknya, siap kapten”!! Poppy langsung pergi kedapur tanpa cuci muka.

Hari itu juga kami memutuskan untuk berkomitmen saling setia satu sama lain, saling menjaga, menyayangi dan mencintai, hingga beberapa kali ia memanggil namaku. Poppy membangunkanku, ternyata saat menunggunya meracik ramuan anti lapar untukku, aku tertidur, “Sial, harusnya habis jadian, endingnya pasti ciuman, kenapa harus dibangunin sih” gerutuku dalam hati. Kupikirkan nanti masalah ending mimpi tadi, sekarang aku sangat lapar. Masakan Poppy kini jauh lebih baik, sekarang ada rasanya, aku terlalu bahagia, sampai-sampai makan seperti kesurupan. “Pelan-pelan makannya” kuacuhkan teguran itu hingga aku tersedak. Akupun diomeli seperti anak kecil.

Senja sangat anggun, mengantarku pulang dengan hati dan perut yang sangat berbahagia. Kini tugasku adalah kembali terjaga sembari senyum-senyum sendiri, mencoba mengingat-ingat aku yang terbata-bata mengutarakan perasaanku di dapur saat sedang menemaninya mencuci piring. Walaupun terbata-bata, endingnya tetap berjalan sesuai harapanku. Kami sekarang sepasang kekasih, yang tak lagi mengurusi dan memandikan; mencoba memakaikan pakaian baru pada masa lalu.
Tepat seminggu setelah tanggal jadi kami, Anam menelponku untuk mengajak bertemu. Kami bertemu di cafe tempat aku dan Poppy biasa menikmati coklat panas buatan bang Yahya. Ternyata  Anam mengajak pacarku, kulihat Poppy bergandengan dengannya saat memasuki ruangan cafe. “sore, aku Anam” sangat sopan ia mengulurkan tangan untuk mengajakku berjabat tangan. Ia tak terlalu tua, menurutku umurnya sepantaran denganku, jadi aku pikir tak perlu memanggilnya bang. “Kamu siapanya Poppy”? tanya Anam sambil sedikit menarik kursinya agak maju kedepan agar lebih nyaman. Aku kaget mendengar pertanyannya, apa Poppy tak pernah bercerita tentangku ke kakaknya.

“Aku pacarnya Poppy, memangnya adikmu nggak pernah cerita tentang aku ya”
“oh, jadi Poppy mengaku aku ini kakaknya” Aku semakin tak mengerti dengan alur percakapan ini, tapi aku mencium akhir yang buruk dalam pertemuan ini.
“Saya Anam, pacarnya Poppy, kami sudah pacaran selama 5th ini”

Anam menjelaskan semuanya, bibirku tak kuasa membela diri, kepalaku berontak, tapi hatiku hanya bisa terdiam, merasa dibohongi. Sekarang aku tahu kenapa Poppy tak pernah menyebutkan nama mantannya. Kenapa harus disaat bahagia seperti ini Anam datang membawa kejutan yang tak pernah kubayangkan, yang lebih mengejutkan lagi, Anam menyerahkan sepenuhnya keputusan ditangan Poppy. Aku tahu saat ini hatinya Anam bukan hanya hancur, tapi ia dapat berpikir tenang dan bijaksana jauh melebihi umurnya sendiri.

“Nam, aku sudah bosan sama kamu, aku pilih Awan” Poppy yang sejak tadi hanya diam, mengejutkanku.

Anam kembali mengulurkan tangannya berniat menyalamiku, kutepis tangannya, bukan aku tak menghormatinya, tapi aku sangat tahu bagaimana perasaannya. Aku bukan laki-laki yang cukup bodoh untuk menjalin hubungan serius dengan penipu, hari ini bisa saja ia memilihku karena bosan dengan Anam, esok, lusa, atau tahun depan mungkin saja ia juga akan bosan denganku kemudian pergi begitu saja. Anam tersenyum mendengar jawabanku, kurasa senyumannya memaknai rasa terima kasih; akupun pergi meninggalkan mereka berdua di meja cafe itu.

Poppy menghilang entah kemana, yang kutahu, Anam juga meninggalkannya. Setahun merupakan waktu yang lebih dari cukup bagiku untuk memenuhi kepalaku dengan masa lalu dan air mata yang diam-diam kubuang percuma. Cangkirku telah penuh, saatnya menanggalkan isinya. Hingga dua bulan yang lalu hadir sosok wanita yang mengetuk halus pintu hatiku, ia bukannya ingin berteduh dari derasnya kenangan yang menyedihkan, tapi ia ingin mengajakku bermain. 

Sebut saja Mawar, (bukan seperti korban pemerkosaan di berita kriminal) Namanya memang benar Mawar. Jika kemarin aku jatuh cinta dengan wanita yang datang dengan air mata, sekarang aku jatuh cinta dengan wanita yang penuh tawa bahagia, ia yang selalu menjadi alasanku untuk tertawa dan bahagia; mengubur kenangan di halaman belakang rumah. Kumulai cerita baru dengan Mawar, kami kenal memang belum lama, tapi aku yakin Mawar bukan hanya sekedar pelarianku, aku memiliki rasa yang perlu disampaikan, memiliki hati yang sedikit terkoyak untuk ia rawat.

3 Bulan, hubunganku dengan Mawar sangat berjalan dengan baik, aku bisa mengertinya dengan sempurna. Hingga Mawar terkena kebijakan perusahaan untuk di Rotasi ke kantor cabang, aku tak pernah khawatir dengan masalah itu karena aku tahu sifatnya yang gampang beradaptasi. Ia sering bercerita, di kantornya yang baru sangat menyenangkan, bahkan ia sudah memiliki sahabat karib disana. Hampir setiap hari, ia menceritakan teman barunya itu, ia jarang seantusias ini menceritakan orang, apalagi seorang wanita. “besok kukenalin ke uppy, kita ketemu di cafe yang biasa ya” aku hanya mengangguk santai, aku tak pernah berpikiran macam-macam, karena wanita istimewa sudah berada dihadapanku.

Sore itu aku memesan secangkir kopi, aku dengar pegawai baru cafe ini sangat mahir membuat kopi. 15 menit merupakan waktu yang lama untuk menunggu secangkir kopi siap dihidangkan, tak sabar aku ingin menyeruput kopi yang membuatku penasaran ini. Mawar datang, bersamaan dengan kopi dan juga ‘Poppy’. Aku terkejut saat mengetahui Uppy yang dimaksud oleh Mawar adalah Poppy.

“Hei, aku Poppy” ia mengulurkan tangan ragu-ragu, mencoba berakting tak mengenaliku.
“Awan” jawabku singkat, mencoba mengikuti permainan Poppy

Di meja itu, aku hanya sibuk dengan kopi nikmatku. Poppy dan Mawar sibuk ngobrol ngalor ngidul dan tak kuperdulikan. Kepalaku, ia tanpa diperintah mencari-cari kembali kenangan dengan judul arsip ‘Poppy’, selalu saja di meja no 2 ini. Tak dapat ku pungkiri aku memang masih menaruh perasaan padanya. Ah, aku bodoh jika berpikiran untuk kembali untuk Poppy, sekarang aku sudah punya Mawar. Sampai kami pulang, aku menjadi seorang pendiam.

“Wan” pesan dari nomor baru, siapa batinku yang mengirimi pesan hanya memanggil namaku.
“iya kenapa? Ini siapa? Dapat nomorku dari mana”? aku jarang sekali mengirim sms, karena lebih sering menggunakan fitur chat pada smartphone milikku, demi mengirit pulsa aku bertanya segalanya dalam sekali tekan ‘send’.
“aku Poppy, aku dapet nomermu nyolong dari Mawar, aku kaget ternyata kamu pacarnya. aku kangen kamu Wan, nanti sore ada waktu,? ketemu yuk” aku terbelalak membaca pesan dari Poppy.
“Sorry Pop, nanti sore aku ada janji keluar sama Mawar”
“Jangan bohong, aku tau nanti Mawar lembur sampai malam, apa kamu nggak kangen aku? Pokoknya jam 5 aku tunggu di cafe Folia”

Poppy masih saja keras kepala seperti dulu, ajakannya memang tak pernah dirancang untuk dapat ditolak. Tapi kenapa harus cafe Folia?  yang jauh dari tempat tinggal kami, kenapa bukan Padang Bulan yang selama ini menjadi tempat favorit kami bertiga. Aku kembali berpikiran yang tidak-tidak, sekarang aku berusaha keras untuk hanya memikirkan Mawar, Mawar dan hanya Mawar.

Aku sengaja datang terlambat, berharap Poppy bosan menungguku kemudian pulang. Ternyata perkiraanku salah besar, Poppy masih menungguku dan ia tersenyum melihat kedatanganku. Ia masih sangat cantik, senyumnya masih begitu manis, orang-orang pasti akan mengatakan aku bodoh jika tahu aku yang meninggalkannya tanpa paham alasannya. Sore itu kami sedikit berjalan-jalan ke masa lalu, saling tersenyum dan bergandengan tangan. Merasa pantas masa lalu itu untuk kembali ditulis ulang.

Pertemuan itu merupakan modal awalku menuju kehancuran, aku dan Poppy diam-diam kembali menjalin hubungan. Kini kunikmati menjadi seorang bajingan, sudah sekitar 3bulan, aku merasa dapat membagi cintaku, yang pada kenyataanya berat sebelah untuk Poppy. Mawar dan Poppy juga semakin dekat, semakin sering mengajakku untuk sekedar menikmati kopi ataupun coklat panas. Kami memainkan peran dengan sempurna, selama ini, tak pernah ada perasaan bersalah didalam diri kami. Tanpa sadar cinta kami bertahan selama 5 bulan, setelah akhirnya kepalaku dan kepala Mawar selalu berbenturan; tak lagi sejalan, hati kami tak lagi saling menemukan alasan untuk saling memperjuangkan. Akhirnya memutuskan untuk saling meninggalkan dan merelakan.

Aku sadar, Poppy bukan alasan runtuhnya hubunganku dengan Mawar, tapi aku yakin, Poppy merupakan alasanku untuk tak memperjuangkan Mawar. 3 hari aku tak menghubungi Poppy, kurasa ia akan mengerti keadaanku saat ini. Aku butuh lebih banyak waktu sendiri untuk menenangkan diri.

“Poppy sayang, lagi apa? Maaf baru ngubungin”

Kukirimkan pesan itu saat kurasa aku sudah terlalu lama menyendiri, aku harus kembali kekehidupanku. Tak perlu menyesali apapun pikirku. 1 hari... 2 hari... 1 minggu... 2 bulan... tak kuterima sedikitpun kabar tentang Poppy, ingin sekali kutanyakan pada Mawar, tapi aku harus menjaga perasaannya. Poppy menghilang lagi. Hingga aku bosan, dan sekedar ingin menanyakan kabar Mawar dan siapa tahu kudapat informasi tentang Poppy darinya, kutemukan Display Picture milik Mawar yang sengaja tak ku Delete dari kontak BBM memasang foto Poppy berdiri di pelaminan bersama pria yang tak kukenali.

“War, yang di DP kamu itu Poppy”?
“eh kamu Wan, iya ini Poppy, kemarin nikah, kamu nggak diundang”? aku terkejut membaca balasan dari Mawar.
“Loh sama siapa? Bukannya dia nggak punya pacar”
“ih kepo, bukannya nanyain keadaan mantanmu ini atau gimana, malah nanyain Poppy, itu pacarnya sudah hampir dua tahun ini”
“hahaha, pantesan, oh iya kamu apa kabar” aku mencoba mengalihkan arah pembicaraan mencoba meredam ledakan di hatiku.
“nah gitudooong, nanyain aku, aku baik-baik aja, kamu gimana? Udah punya pacar?”
“aku masih single ini, ternyata ngelupain kenangan kita itu sulit” kurasa aku bisa kembali pada harapanku, mungkin ini saatnya aku memperbaiki hubungan dengan Mawar, pikirku.
“Jangan berpikiran gitu dong, aku aja bisa ngelupain semuanya kok, Lutfhi sudah ngebantu aku selama ini, aku sudah sebulan ini pacaran sama dia, kapan-kapan kukenalin deh. Kamu Cuma butuh cewek yang tepat kok Wan”

Harapanku kandas, ada badai besar dikepalaku, jangankan untuk melangkah, kakiku telah dipasung penyesalan. Aku kemarin yang merasa sebagai raja dapat dengan leluasa memilih cinta dan menyia-nyiakan mereka, kini sadar, aku hanyalah pion pada bidak catur, yang tak bisa kembali lagi setelah melangkah. Aku hanyalah salah satu pion Tuhan yang siap mati kapan saja. 

Aku belajar, cinta tak hanya perihal menyia-nyiakan lalu di sia-siakan, ada campur tangan dendam disana, luka dan lupa, melukai dan dilupakan. Dalam keterpurukan, esok aku tak akan jatuh kelubang yang sama, mungkin kutemukan bahagia, atau terjatuh lagi, tapi dilubang yang berbeda, karena masih dalam proses belajar, entahlah.

Tak tahu mengapa aku berpikir kalian mengatakan "kita impas wan", sembari pergi meninggalkanku.



PS: Tema cerpen ini merupakan permintaan dari bang @BryantGentur

2 komentar:

  1. Setidaknya kamu telah menepis jabat tangan dengan Anam.. Meskipun pada akhirnya kamu kembali untuk menengok lubang yang sama

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepertinya aku telah menjilat ludah sendiri, tak terasa nikmat tapi kucoba menikmatinya.

      Hapus