Apa ada yang pernah berpikir logis tentang cinta ? Apa ada yang menggunakan otak sepenuhnya tanpa campur tangan perasaan ? Apa semuanya akan berakhir bahagia ? Mengapa semua pecinta selalu bertanya mengapa dan apa ? Klise memang jika selalu berkata ‘jalani saja dulu’. Apa masalah akan terselesaikan dengan sendirinya saat kita hanya berpangku tangan tanpa ada usaha memutuskan walapun itu sedikit butuh pengorbanan, meski itu menutup hati atau terkulai lemas terluka lalu mati.
Pada tuhan yang maha mengetahui, kepada deret kata yang tak pernah lupa mendoakan harap, sedikit-demi sedikit dipanjat. Kepada kepala yang nyaris mati, dan tak lagi ada tempat untuk rindu berkirim surat. Izinkan air mata menjelaskan perpisahan, karena sebelum dan sesudahnya pasti hadir tawa yang nampak ambigu, bahagia kah atau sekedar topeng kah itu. Hanya bagaimana perlakuanmu terhadap masa lalu, merawatnya atau menguburnya. Memaksa hati menjauhi poros luka, mengusir pergi saat kepala menjenguk membawa seikat kata maaf yang dibungkus rapi dengan penyesalan.
Aku adalah sebuah tulisan yang menggambarkan, bait demi baitnya berisi rasa kagum, ditinggalkan kemudian diakhiri penyesalan. Terkadang aku membenci tulisanku sendiri, karena akhirnya selalu saja melukiskan ketidakmampuanku untuk mengalahkan takdir. Tenang saja, kasih, aku memilihmu karena alasan yang tak dapat kau baca pada setiap tulisanku. Aku tak pernah dapat melukismu pada bait milikku, jadi jangan pernah tanyakan apapun, karena kamu hanya cukup menikmatiku dengan tawa nyaring dan masa lalumu yang masih terus kau papah disampingmu. Kini kucoba melawan nasibku sendiri karena logika ku mungkin telah bosan mengalah.
Kasih, aku sadar betul akan kemampuanku sebagai pemain pengganti, didalam hatimu masih saja mengharapnya. Setiap hari yang kamu keluhkan adalah dia, akan sampai kapan kamu terus membandingkan ?.
“Sayang, aku sudah satu bulan ini mual nggak jelas”
“Tumben manggil sayang, hehehehe. Yaudah besok sepulang kerja kutemenin periksa ke dokter ya”
“aku bisa sendiri kok, nggak mau ngerepotin kamu”
“gak apa-apa kok, kan gimanapun kamu pacar aku sekarang”
Aku telah mengubur dalam kata logika setelah mengenal Rina. Baru sekitar 2 minggu ini aku berpacaran dengannya, tak perlu kujelaskan bagaimana rasanya berpacaran membetah-betahkan diri dengan raga yang ruh nya masih tertinggal di masa lalu. Jika kepalaku tak dicemari limbah dari cinta, mungkin aku sudah meninggalkan Rina sejak kudekati dia. Terkadang aku harus menjadi orang lain yang lebih lembut, lebih perhatian dan lebih mengalah demi memenuhi kalimat “ah kalo si dia sih dulu gini, nggak kayak kamu gitu”. Kini berdiam diri adalah kesalahan, bertidak seolah benar terlebih lagi. Ketika egomu meninggi, kepalaku merendah berharap suatu saat kamu mengerti.
***
“Sayang, aku sudah periksa, maaf nggak ajak kamu, aku nggak mau ganggu kamu kerja. Tadi dokter bilang gejala usus buntu”
“lah kok gitu, padahal aku sudah lembur, biar bisa minta jam pulang lebih cepat, sayang periksa dimana, dokter nganjurin apa? Operasi ? tabunganku ada kok”
Kalimatku itu bukan sebuah topeng, aku benar mengkhawatirkan Rina, kini dia milikku seutuhnya, menjaga kesehatannya pun merupakan tugasku sekarang. Kuputuskan untuk minta pulang lebih awal pada bos ku dengan alasan ada keluarga yang sakit, aku mengkhawatirkan Rina. Sesampainya dirumah Rina, ditemani teh panas yang baru saja ia seduh, Rina menceritakan semuanya. Dia menolak anjuranku untuk operasi, katanya masih gejala, nanti juga hilang sendiri lanjutnya. Tetap saja aku kekeh memaksa, namanya juga lelaki yang tak tahu apa-apa, yang kutahu hanyalah dia sakit, dan aku khawatir karena aku terlalu takut kehilangan. Percuma, hingga aku beranjak dari rumahnya pukul 11.00 malam, dia tetap meyakinkanku akan baik-baik saja, aku mengalah, lagi.
***
Akhir-akhir ini, kebersamaan kami selalu saja diganggu oleh sakit kepalanya yang datang tiba-tiba, mual, perut sembelit secara mendadak, hingga pingsan. “sepertinya penyakitmu semakin parah” entah kali keberapa kuucapkan kalimat itu, tapi tetap saja ia bilang tak apa-apa, lalu melupakannya. Rin, aku mengkhawatirkanmu, cobalah pikirkan dirimu seperti aku memikirkanmu. Kepada bibir yang tak pernah absen meminta kesehatan kepada pemberi nyawa dan tawa, aku selalu memohon untuk Rina.
Pagi ini kepalaku sedikit kesepian, ada yang kurang, ah, Rina belum menghubungiku pagi ini, biarlah dia istirahat pikirku. Berangkat kerja mencoba menepis pikiran negatif tentang Rina. Tapi entah kerasukan setan apa aku ini, pekerjaanku semerawut, raga dan niatku ada ditempat kerja, tapi pikiranku melanglang buana ke segala tempat. Hingga akhirnya pikiranku pulang setelah menerima pesan dari Rina.
“Sore sayang, maaf baru ngubungin, tadi aku habis periksa kedokter lagi” Membacanya, aku sedikit lega, menghela nafas sambil bersyukur akhirnya kamu memikirkan kesehatanmu Rin.
“iya sayang, gak apa-apa, gimana kata dokter”?
“Maaf aku bohong, aku bukannya usus buntu, tapi aku hamil. Tadi aku ngecek hasil USG, diperutku sudah keliatan janinnya” ah, Rina bercanda pikirku.
“Kamu jangan bercanda, aku lagi kerja”
“Aku serius”
Membaca pesan Rina, kutinggalkan pekerjaanku, aku langsung berlari menuju parkiran, melaju sekencang mungkin memaksa motorku untuk segera sampai dirumah Rina. Sesampainya dirumah Rina, kubuka lagi ponselku, ada 1 pesan dari bos, isinya hanya sedikit ancaman pemecatan karena menghilang dari tempat kerja, kuabaikan. Bukan senyuman seperti biasa yang ku ciptakan menandakan kedatanganku sebagai kekasih setianya, tapi jutaan pertanyaan yang telah berontak memaksa untuk dijawab.
“Janin siapa itu”? ia berdiam seraya berjalan menuju ruang tamu
“jangan Cuma diam, jawab Rin” Aku sangat membenci jika tanyaku diabaikan, ketika segala perhatian hingga perubahan yang pernah ada, kini tak lagi dihargai.
“ini anaknya mantanku” Akhirnya ia menjawab, meskipun aku tak bisa berkata apa-apa lagi, aku pun duduk disampingnya kemudian menundukkan kepala.
“kita baru pacaran selama sebulan, dan umur janinku sekarang sudah 3 bulan, artinya ini bukan anakmu, maaf kalau selama ini aku terus-terusan bohongin kamu, sekarang kamu maunya gimana”?
“Hubungi mantanmu, orang tuanya sekalian, mereka maunya gimana, jangan tanya sama aku”
“aku nggak mau hubungin dia lagi”
Jawaban terakhirmu mempersilahkanku duduk pada kursi terdakwa atas kejahatan yang dilakukan oleh orang lain. Kini mungkin doaku dijawab oleh Tuhan, Rina bukan tulang rusukku. Logika ku, setelah sekian lama berdiam diri mengalah dengan perasaan, akhirnya berani bersuara. Aku mungkin bisa menerima Rina sepenuhnya, dengan segala masa lalunya, tapi tidak dengan janinnya. Persetan dengan cinta, sekarang yang kupikirkan adalah masa depanku, aku hanyalah mahasiswa yang bekerja paruh waktu di sebuah cafe dan supermarket. Untuk segera menikah dan punya momongan masih jauh dari anganku, aku masih harus membiayai adikku, kedua orang tuaku jauh lebih penting ketimbang cintaku butaku ini. Aku pergi.
Kepergianku bukan sekedar langkah menjauh seorang bajingan egois belaka, kepergianku memutuskan 2 hal. Aku bisa kembali menjadi diriku sendiri tanpa harus berpura-pura lagi, dan Rina, bisa kembali pada masa lalunya yang selama ini terus menjadi pembanding, walau itu terpaksa. Maaf, perasaan memang bodoh, tapi logika tak selalu diam.
Jika ada yang pernah bilang ‘cinta tak harus saling memiliki’ bagiku semuanya adalah omong kosong. Aku tak memilikinya karena aku tak lagi memiliki cinta untuknya. Benci, tidak, lawan dari cinta bukanlah benci, tapi pergi dan tak lagi perduli.
PS : Tema cerpen ini merupakan permohonan dari @azhimmaulana
PS : Tema cerpen ini merupakan permohonan dari @azhimmaulana




0 Bisikan:
Posting Komentar