Kumulai menulis cerita dengan jelas seperti apa yang kualami, baru saja aku sadarkan diri setelah kejadian semalam. Aku tak pernah mengira bahwa ada yang lebih menyakitkan dibanding meninggalkan lalu berujung penyesalan. Aku ingin ini menjadi ritual mengenang lalu merelakan.
Sejujurnya aku mengenal Rivia setahun yang lalu melalui temanku, aku mengenalnya hanya sebatas ingin berteman dan tak lebih. Awal perkenalan itu aku yang nyaris tenggelam dalam kesepian menemukan muara bercerita dan pegangan agar tak tenggelam lalu mati. Dari sini, kukeluhkan segala masalahku kepada Rivia yang setia mendengarkanku hingga telinganya panas. Benar, kami hanya berbincang melalui telepon dan skype, hanya sebatas itu usaha kami memangkas jarak yang tak dapat dikatakan dekat ini.
"Aku ngantuk, sudah dulu ya telponannya, besok aku yang nelpon kamu, selamat malam sayang."
tut,... tut...tuuutttt
Tunggu, apa aku tak salah dengar? Rivia memanggilku 'sayang' diakhir perbincangan kami tadi. Malam ini sangat sulit untukku memejamkan mata dan sekedar mengistirahatkan pikiran. Aku ingin menelpon Rivia lagi dan ingin mendengar sekali lagi panggilan 'sayang' yang membuatku kesulitan memejamkan mata ini. Ah, tuhan aku mohon sebentar saja biarkan aku terlelap dengan mimpi indahku sendiri.
beep... beep..beep..
Ada satu pesan diterima, ah pasti Rivia pikirku, berulang kali aku menguap untuk mendinginkan temperatur otak, seperti itulah menurut buku sains yang pernah ku baca, dan kantung mataku menjadi bukti bahwa semalaman aku terjaga.
"Selamat pagi sayang, jangan lupa kuliah. jangan tidur terus!!"
Seketika mataku terbelalak, entah pergi kemana kantukku tadi, yang jelas sekarang aku merasa segar bugar. Rivia memanggiku 'sayang'. Sekarang aku benar-benar yakin, ia memang memanggilku sayang. Ah, tapi mengapa aku terlalu girang? bukankah hal ini biasa terjadi pada setiap orang seluruh penjuru dunia gumamku. Tapi apa perduliku, yang jelas aku bahagia. Aku tak tahu bagaimana harus menyampaikan perasaan bahagiaku, yang kubutuhkan adalah dekat dan memelukmu barang sedetik. Diingatkan seperti itu aku bergegas untuk mandi, dandan rapi siap untuk berangkat kuliah, saking semangatnya aku lupa hari ini hari sabtu- tak ada kuliah.
Pernahkah kalian bertindak bodoh demi seseorang yang kau sukai ? aku belum pernah, tapi akan melakukannya. Bermodalkan panggilan sayang tadi pagi, kubulatkan tekad untuk berangkat kekotanya. Tabunganku untuk membeli handphone baru kurasa lebih dari cukup untuk sekedar say hai padanya. 1,4 juta untuk harga tiket pesawat pulang pergi Yogyakarta - Balikpapan, sisa 600rb pikirku cukuplah untuk tinggal dibalikpapan selama 2 hari kedepan. Tiket sudah ditanganku, pukul 16.00 wib jadwal keberangkatanku. Aku tak sabar bertemu dengannya.
Seharian sengaja aku tak menghubungi Rivia, niatku sederhana, surprise kedatanganku berharap dapat membahagiakannya. Jam tangan ku sudah bergeser pada angka 2, aku bergegas dengan bawaan seadanya. Jangan sampai ketinggalan pesawat pikirku. Jalan jogja yang biasanya macet seperti turut bersuka cita mempersilahkan taxiku lewat dengan leluasa. Bandara Adisucipto menyambutku, seperti berucap ‘cieeee cieeee pengen ketemu gebetan cieeee’. Imajinasiku telah sampai di Balikpapan, aku sampai di bandara kepagian, terlalu bersemangat. Kubuang waktuku di kantin bandara bersama sebungkus rokok. Berpikir bagaimana nanti saat bertemu, canggung kah, apakah dia cantik, apakah dia dapat membuatku nyaman seperti biasanya, otakku tak bisa berhenti berimajinasi, sialan. Lalu pesawatku-pun siap untuk berangkat.
Whuusssss....
Sampai di bandara Sepinggan, Balikpapan, kubuka ponselku didalam pesawat, siapa yang akan memarahi orang yang sedang kasmaran pikirku. Ada sekitar 12 pesan masuk, semuanya dari Rivia, ‘kamu lagi apa’ ‘kok nggak dibales’ ‘kamu kemana sih kok ngilang’ dan sebagainya, hingga di akhir pesan, dia ngambek.
‘Akhirnya telponku kamu angkat, kamu dimana Vi’?
‘Ah aku malas sebenernya ngangkat, kamu kemana aja? Kamu...’ kupotong kalimatnya sebelum khotbahnya semakin panjang.
‘Sebelum kamu marah, aku mau bilang aku di Balikpapan, kamu nggak mau jemput’ ?
‘Pembohong’!!
‘nih, dengerin mbak-mbak dari bagian informasi, dia bilang bandara sepinggan kan’
‘Kamu beneran di Sepinggan? Aku kesana sekarang, tunggu’!!
Entah aku yang berpikir berlebihan apa memang Rivia jauh lebih bersemangat ketimbang aku sekarang. Ah, sudahlah, lebih baik aku tunggu diparkiran sekarang sambil bakar rokok, kenapa di pesawat tak ada smoking area pikirku dengan tampang lugu. Sebentar lagi aku bertemu Rivia, melangkah cepat sambil bernyanyi-nyanyi kecil melukiskan bahagiaku yang tak keberatan jika ditularkan pada hati penjaga parkir yang sepertinya mendung. Belum habis rokokku, Rivia sudah menunggu di depan gerbang masuk.
‘Hai’ sapanya
‘Loh kok gak pake wedges, katanya kalo ketemu aku mau pake wedges’
‘isshhhh nggak ada kalimat perkenalan yang lebih romantis apa? Selain nanyain wedges’ berucap dengan wajah cemberut, wajah cemberutnya mematahkan teori ‘semakin cemberut wajah wanita, berbanding lurus dengan jelek dan wajah memuakkannya’.
Aku berhasil membuat pertemuan pertama kami berkesan.
Sekedar menghabisakan malam, tertawa renyah dengan obrolan yang sama seperti biasanya mengundang tawa. Hanya saja sekarang, dapat kunikmati senyumnya, maafkan aku telah mencuri senyummu, lalu kusimpan dalam ingatanku, esok akan kuurus hak paten kepemilikan senyum itu adalah hak ku. Pada matanya mencerminkan diriku, ada harap yang dalam saling ingin memiliki. Apa aku yang terlalu percaya diri, entahlah.
Pagi, siang, malam, hingga pagi lagi. Kita tak terpisahkan, Rivia milikku selamanya. Tanpa sadar, aku terlalu naif, bahkan anak kecil yang belum lancar menulis namanya sendiri, tahu bahwa waktu yang akan menjawab segalanya. Hingga pada akhirnya waktu yang memisahkan. Sadar esok hari aku harus meninggalkan Balikpapan, ingin kuhentikan waktu saat bersamamu, ingin kubunuh semua waktu kota agar berhenti demi hangat senyum dan pelukanmu, pasal KUHP tak akan menangkap orang yang sedang kasmaran pikirku lagi.
‘Jaga diri saat aku pergi, jaga hati sampai aku kembali’
Kecupan hangatku mendarat mulus pada keningnya, terlarut dalam bahagia, semua penumpang pada kecupan itu dalam keadaan baik-baik saja. Kita tak menangis dalam sebuah perpisahan, kita sepasang hati yang berusaha tegar, melangkah meninggalkan, mencari tempat untuk melambai. ‘aku menunggumu disini’ seperti itulah kubaca pada matamu yang mulai berkaca-kaca.
Pertemuan pertama kita tak pernah ingin pergi dari pikiranku, begitu manis. Hingga aku mengusirnya pergi pun, ia tak punya malu masih saja memaksa tinggal. 6 bulan yang terlalu manis pun akhirnya akan terasa pahit, saat burung-burung kecil hinggap di jendela kamarku menyampaikan kabar baik. Baik untukmu, petaka untukku, sepertinya begitu pesan dari burung itu. Aku sadar jarak merupakan emosi terbesar kita, bukan aku yang mulai kurang perhatian, atau kamu yang seringkali mudah marah. Setidaknya kini senyummu bukan lagi teruntuk bahagiaku, ada dia yang tak perlu membayar mahal untuk membeli beberapa menit waktumu dan memangkas jarak. Ada dia yang membuka bahunya 24 jam untuk kau basahi dengan air matamu hingga kau terlelap disana.
"Selamat pagi sayang, jangan lupa kuliah. jangan tidur terus”!! 6 bulan kunantikan pesan itu kembali hadir disetiap pagiku, kau telah hilang, tenggelam bersama bahagia barumu disana.
Semalam, tanggal 3 oktober, tepat setahun sejak kita menjanjikan bahagia lewat sepucuk surat dan harap. Bukankah kita masih sepasang kekasih, tak pernah terucap dari bibirmu sebuah perpisahan, seingat kepalaku yang tak pernah pandai mengingat ini. Mengingatmu, aku mual lagi, segera ku berlari kearah kamar mandi, sejak semalam, ini kali ketiga aku muntah, berharap kenangan dalam pikiranku pun ikut keluar bersama isi perutku, kukeluarkan semua isi perutku sampai tak ada lagi yang dapat dimuntahkan. Botol-botol minuman semalam merupakan ritual untuk mengenang lalu merelakan, semoga saja.
Setidaknya aku belajar untuk tak terlalu cepat menganggap itu perasaan cinta saat mereka terlalu menggampangkan panggilan sayang. Bukankah ia juga akan lebih mudah memanggil sayang, pada setiap raga yang membawa seikat rasa nyaman.
Sejujurnya aku mengenal Rivia setahun yang lalu melalui temanku, aku mengenalnya hanya sebatas ingin berteman dan tak lebih. Awal perkenalan itu aku yang nyaris tenggelam dalam kesepian menemukan muara bercerita dan pegangan agar tak tenggelam lalu mati. Dari sini, kukeluhkan segala masalahku kepada Rivia yang setia mendengarkanku hingga telinganya panas. Benar, kami hanya berbincang melalui telepon dan skype, hanya sebatas itu usaha kami memangkas jarak yang tak dapat dikatakan dekat ini.
"Aku ngantuk, sudah dulu ya telponannya, besok aku yang nelpon kamu, selamat malam sayang."
tut,... tut...tuuutttt
beep... beep..beep..
Ada satu pesan diterima, ah pasti Rivia pikirku, berulang kali aku menguap untuk mendinginkan temperatur otak, seperti itulah menurut buku sains yang pernah ku baca, dan kantung mataku menjadi bukti bahwa semalaman aku terjaga.
"Selamat pagi sayang, jangan lupa kuliah. jangan tidur terus!!"
Seketika mataku terbelalak, entah pergi kemana kantukku tadi, yang jelas sekarang aku merasa segar bugar. Rivia memanggiku 'sayang'. Sekarang aku benar-benar yakin, ia memang memanggilku sayang. Ah, tapi mengapa aku terlalu girang? bukankah hal ini biasa terjadi pada setiap orang seluruh penjuru dunia gumamku. Tapi apa perduliku, yang jelas aku bahagia. Aku tak tahu bagaimana harus menyampaikan perasaan bahagiaku, yang kubutuhkan adalah dekat dan memelukmu barang sedetik. Diingatkan seperti itu aku bergegas untuk mandi, dandan rapi siap untuk berangkat kuliah, saking semangatnya aku lupa hari ini hari sabtu- tak ada kuliah.
Pernahkah kalian bertindak bodoh demi seseorang yang kau sukai ? aku belum pernah, tapi akan melakukannya. Bermodalkan panggilan sayang tadi pagi, kubulatkan tekad untuk berangkat kekotanya. Tabunganku untuk membeli handphone baru kurasa lebih dari cukup untuk sekedar say hai padanya. 1,4 juta untuk harga tiket pesawat pulang pergi Yogyakarta - Balikpapan, sisa 600rb pikirku cukuplah untuk tinggal dibalikpapan selama 2 hari kedepan. Tiket sudah ditanganku, pukul 16.00 wib jadwal keberangkatanku. Aku tak sabar bertemu dengannya.
Seharian sengaja aku tak menghubungi Rivia, niatku sederhana, surprise kedatanganku berharap dapat membahagiakannya. Jam tangan ku sudah bergeser pada angka 2, aku bergegas dengan bawaan seadanya. Jangan sampai ketinggalan pesawat pikirku. Jalan jogja yang biasanya macet seperti turut bersuka cita mempersilahkan taxiku lewat dengan leluasa. Bandara Adisucipto menyambutku, seperti berucap ‘cieeee cieeee pengen ketemu gebetan cieeee’. Imajinasiku telah sampai di Balikpapan, aku sampai di bandara kepagian, terlalu bersemangat. Kubuang waktuku di kantin bandara bersama sebungkus rokok. Berpikir bagaimana nanti saat bertemu, canggung kah, apakah dia cantik, apakah dia dapat membuatku nyaman seperti biasanya, otakku tak bisa berhenti berimajinasi, sialan. Lalu pesawatku-pun siap untuk berangkat.
Whuusssss....
Sampai di bandara Sepinggan, Balikpapan, kubuka ponselku didalam pesawat, siapa yang akan memarahi orang yang sedang kasmaran pikirku. Ada sekitar 12 pesan masuk, semuanya dari Rivia, ‘kamu lagi apa’ ‘kok nggak dibales’ ‘kamu kemana sih kok ngilang’ dan sebagainya, hingga di akhir pesan, dia ngambek.
‘Akhirnya telponku kamu angkat, kamu dimana Vi’?
‘Ah aku malas sebenernya ngangkat, kamu kemana aja? Kamu...’ kupotong kalimatnya sebelum khotbahnya semakin panjang.
‘Sebelum kamu marah, aku mau bilang aku di Balikpapan, kamu nggak mau jemput’ ?
‘Pembohong’!!
‘nih, dengerin mbak-mbak dari bagian informasi, dia bilang bandara sepinggan kan’
‘Kamu beneran di Sepinggan? Aku kesana sekarang, tunggu’!!
Entah aku yang berpikir berlebihan apa memang Rivia jauh lebih bersemangat ketimbang aku sekarang. Ah, sudahlah, lebih baik aku tunggu diparkiran sekarang sambil bakar rokok, kenapa di pesawat tak ada smoking area pikirku dengan tampang lugu. Sebentar lagi aku bertemu Rivia, melangkah cepat sambil bernyanyi-nyanyi kecil melukiskan bahagiaku yang tak keberatan jika ditularkan pada hati penjaga parkir yang sepertinya mendung. Belum habis rokokku, Rivia sudah menunggu di depan gerbang masuk.
‘Hai’ sapanya
‘Loh kok gak pake wedges, katanya kalo ketemu aku mau pake wedges’
‘isshhhh nggak ada kalimat perkenalan yang lebih romantis apa? Selain nanyain wedges’ berucap dengan wajah cemberut, wajah cemberutnya mematahkan teori ‘semakin cemberut wajah wanita, berbanding lurus dengan jelek dan wajah memuakkannya’.
Aku berhasil membuat pertemuan pertama kami berkesan.
Sekedar menghabisakan malam, tertawa renyah dengan obrolan yang sama seperti biasanya mengundang tawa. Hanya saja sekarang, dapat kunikmati senyumnya, maafkan aku telah mencuri senyummu, lalu kusimpan dalam ingatanku, esok akan kuurus hak paten kepemilikan senyum itu adalah hak ku. Pada matanya mencerminkan diriku, ada harap yang dalam saling ingin memiliki. Apa aku yang terlalu percaya diri, entahlah.
Pagi, siang, malam, hingga pagi lagi. Kita tak terpisahkan, Rivia milikku selamanya. Tanpa sadar, aku terlalu naif, bahkan anak kecil yang belum lancar menulis namanya sendiri, tahu bahwa waktu yang akan menjawab segalanya. Hingga pada akhirnya waktu yang memisahkan. Sadar esok hari aku harus meninggalkan Balikpapan, ingin kuhentikan waktu saat bersamamu, ingin kubunuh semua waktu kota agar berhenti demi hangat senyum dan pelukanmu, pasal KUHP tak akan menangkap orang yang sedang kasmaran pikirku lagi.
‘Jaga diri saat aku pergi, jaga hati sampai aku kembali’
Kecupan hangatku mendarat mulus pada keningnya, terlarut dalam bahagia, semua penumpang pada kecupan itu dalam keadaan baik-baik saja. Kita tak menangis dalam sebuah perpisahan, kita sepasang hati yang berusaha tegar, melangkah meninggalkan, mencari tempat untuk melambai. ‘aku menunggumu disini’ seperti itulah kubaca pada matamu yang mulai berkaca-kaca.
Pertemuan pertama kita tak pernah ingin pergi dari pikiranku, begitu manis. Hingga aku mengusirnya pergi pun, ia tak punya malu masih saja memaksa tinggal. 6 bulan yang terlalu manis pun akhirnya akan terasa pahit, saat burung-burung kecil hinggap di jendela kamarku menyampaikan kabar baik. Baik untukmu, petaka untukku, sepertinya begitu pesan dari burung itu. Aku sadar jarak merupakan emosi terbesar kita, bukan aku yang mulai kurang perhatian, atau kamu yang seringkali mudah marah. Setidaknya kini senyummu bukan lagi teruntuk bahagiaku, ada dia yang tak perlu membayar mahal untuk membeli beberapa menit waktumu dan memangkas jarak. Ada dia yang membuka bahunya 24 jam untuk kau basahi dengan air matamu hingga kau terlelap disana.
"Selamat pagi sayang, jangan lupa kuliah. jangan tidur terus”!! 6 bulan kunantikan pesan itu kembali hadir disetiap pagiku, kau telah hilang, tenggelam bersama bahagia barumu disana.
Semalam, tanggal 3 oktober, tepat setahun sejak kita menjanjikan bahagia lewat sepucuk surat dan harap. Bukankah kita masih sepasang kekasih, tak pernah terucap dari bibirmu sebuah perpisahan, seingat kepalaku yang tak pernah pandai mengingat ini. Mengingatmu, aku mual lagi, segera ku berlari kearah kamar mandi, sejak semalam, ini kali ketiga aku muntah, berharap kenangan dalam pikiranku pun ikut keluar bersama isi perutku, kukeluarkan semua isi perutku sampai tak ada lagi yang dapat dimuntahkan. Botol-botol minuman semalam merupakan ritual untuk mengenang lalu merelakan, semoga saja.
Setidaknya aku belajar untuk tak terlalu cepat menganggap itu perasaan cinta saat mereka terlalu menggampangkan panggilan sayang. Bukankah ia juga akan lebih mudah memanggil sayang, pada setiap raga yang membawa seikat rasa nyaman.




aku suka banget tulisan kamu :)
BalasHapusaku sudah baca beberapa tulisanmu, aku juga suka :))
HapusAku mah masih ecek2! Bikin cerpen aja putus tengah jalan terus-_-
Hapusnah makanya itu, aku nantang, biar kamu semangat. biar punya tanggung jawab nyelesein satu cerpen
HapusBoleh deh, insyallah aku buat. Kk belajar nulis cerpen drmna?
Hapusaku belajar nulis dari pemilik web erdidik (dot) com tapi dia nggak buat cerpen, aku buat cerpen soalnya nyajak kayak dia lebih sulit. heheheheh
Hapus