14 Sep 2014

Tulisan adalah Penipu Ulung

Tadi sore saya bangun dengan kepala pening dan mata bekunang-kunang, sekuat tenaga berjalan sempoyongan kearah kamar mandi, dan... sisa tawa kebahagiaan dan air kejujuran tadi malam mengalir deras melalui kerongkongan. Ini kali ketiga aku muntah, rasanya perut ini sudah tak memiliki apa-apa lagi untuk dikeluarkan. Kupejamkan mata rapat-rapat mengumpulkan kesadaran lalu mencoba meraih shower untuk menyegarkan pikiran dan hawa panas di badan.

Beberapa kawanku masih tergeletak tak sadarkan diri dikamar dan ruang tamu. Mereka minum terlalu banyak, pikirku. Kuraih laptopku dan ingin menulis kisah semalam karena masih tergambar dalam ingatanku walaupun samar-samar. Sepertinya ada yang kurang, ah, kopiku. Kali ini kubuat kopiku sangat pahit agar memaksa pikiranku mengingat kejadian semalam dengan lengkap dan bluray.

Berawal dari tulisan 'Aku mengenalnya lebih dahulu' yang jujur kuambil dari sedikit cerita kawannya kawanku. Aku berpikir ini akan menarik dan menantang bagiku untuk dijadikan bahan tulisan. Ternyata aku salah, memang mudah menentukan tema, tetapi menghidupkan cerita itu yang sulit, apalagi jika pada akhirnya tulisanku akan ditelan mentah-mentah oleh pembaca. Jalan cerita yang kubuat seperti anak haram yang terlahir dari pikiranku sendiri memaksa pembaca nge-judge siapa yang salah didalam cerita itu. Aku yang buta akan masalah sebenarnya seolah menggurui dan menentukan konsep seenakku sendiri menurut  apa yang kulihat dan sedikit kudengar, tapi aku lupa, aku buta.

Kepada pembaca, jika kalian penasaran siapa yang tak dapat kalian percaya didunia ini, penulislah jawabannya. Penulis bisa saja menceritakan kebahagiaan padahal ia sedang menangis deras, atau sebaliknya. Penulis yang sedang belajar seperti saya bahkan lebih kejam daripada penulis pro, karena tulisan akan membuat anda berpikir salah tanpa tahu-menahu duduk permasalahannya. Jangan sampai kalian dibutakan oleh penulis buta, jika anda pintar, anda bisa menemukan makna dibalik tulisan yang tak tertulis. Dan jika anda bijaksana, anda akan berkomentar memperbaiki. Sloki demi sloki kami habiskan malam itu, kebencian demi kebencian kami petakan pada setiap bahasan, kini tak ada yang disembunyikan lagi. Hingga aku sadar ternyata banyak yang salah dalam penilaianku selama ini, aku mengenal karena apa yang kulihat dan diperlihatkan, bukan karena aku mengerti. Sindir menyindir adalah hal biasa, tapi bukankah itu sangat menyakitkan dan mengendap lama didalam hati.


0 Bisikan:

Posting Komentar