Sepagi ini aku sudah sangat rapih sambil menyemprotkan parfum sebanyak mungkin pada kemeja yang kugulung sampai sikut dan bergegas berangkat kuliah. Tak kuhiraukan orang tuaku dirumah yang menganggap pemalas sepertiku kesurupan setan rajin atau apalah itu. Yang kupedulikan adalah bertemu teman baru yang akhir-akhir ini banyak merubah kebiasaan burukku. "Hei, tumben nggak telat lagi Ga"? otak ku telah mencatat siapa pemilik suara ini, dia Veluna rambutnya lurus sepinggang agak sedikit berwarna kemerahan, dibalut t-shirt putih bertuliskan 'Simple' dipadukan dengan celana jeans sobek-sobek dan sepatu convers lusuhnya. Veluna selalu menawan, sudah sekitar seminggu ini aku akrab dengannya, bagi pemalas yang sulit bergaul sepertiku, Veluna terlalu istimewa.
Didalam kelas, aku selalu duduk dibelakangnya, menjahili rambutnya adalah hobi baruku. Mencoba mencari perhatiannya adalah makna licik yang terselip dibalik hobiku itu. Terkadang aku diusir dosen karena tingkah ku, bukan hal yang mengejutkan bagi anak-anak akutansi jika Ega diusir, kan yang terpenting sudah mengisi daftar hadir dikelas.
"Mengais-ngais perhatianmu pada setiap bunyi tik pada waktu adalah bakat jiwaku sebagai pemulung karena sadar waktu tak dapat kuputar ulang"
"Ve, nanti malem ngopi yuk"
"sama siapa aja Ga?"
"sama temen-temenku kalo kamu mau, kita berdua juga gak apa-apa"
"oke, nanti kalo jadi hubungin aja"
Malam itu kami duduk disebuah cafe hanya berdua saling beradu pandang dan diam. Tatapannya seolah menceritakan diri perihal segala tanya dan rasa penasaranku. Ah wanita ini terus menampakkan sisi mengagumkannya yang tak pernah ku sangka-sangka. Tapi tatapan kami harus terganggu dengan hadirnya 3 sahabat baikku, mereka paling jago merusak suasana karena seperti itulah kami berempat dididik dalam setiap forum canda dan meja-meja dimana penghuninya tak mempunyai jeda tawa. Tak ada masalah yang tak dapat ditertawakan, meski kata orang- banyak tertawa pada kesedihan karena dia terlalu kesepian.
Dari kiri ke kanan: Indra, Fahlevi, Demas, aku lalu Veluna, akhirnya Ve duduk tepat disampingku. Indra mahasiswa semester menegangkan yang tak terlalu banyak omong. Fahlevi dan Demas hanya satu angkatan diatas ku dan Ve. Ada yang menarik dari Fahlevi, nama sebenarnya Abidin Fahlevi, tapi raut wajahnya selalu berubah saat dia dipanggil Abidin. Pergaulan memang agak sedikit lucu karena beberapa orang ada yang tak suka dipanggil dengan doa orang tua nya sendiri perkara malu atau ketinggalan zaman kah itu.
Aku tak pernah salah saat memilih Ve sebagai tempatku menitipkan hati. Dia seperti perenang handal yang langsung menceburkan diri kedalam lautan canda kami, sesekali ia memecahkan gulungan ombak dengan guyonannya. Akupun melihat sahabatku menerima dengan hangat orang baru yang paling cantik dimeja ini.
___
"ini Veluna kan"?
"iya, bukannya ini Fahlevi? dapet pin BBM aku darimana"?
"aku minta sama Ega kemarin"
Setelah pertemuanku yang pertama malam itu, aku jatuh hati padanya. Jika ada yang bertanya mengapa? aku hanya dapat menggelengkan kepala, mengapa harus wanitanya sahabatku sendiri? apa daya tarik Ve tak ada pada wanita lain yang kudekati?. Aku terlalu pengecut jika merebut yang seharunya bukan hakku, tapi perasaan tak selamanya dapat tersimpan rapi ketika angan ikut berimajinasi.
Tak seperti mainan robot-robotan yang dapat seenaknya kurebut atau kuminta dari sahabatku, kini aku mengutuk diriku sendiri. Mengapa bukan aku yang mengenal Ve lebih dahulu?, mengapa Ve dapat begitu mudahnya mencentang semua kriteria wanita idamanku?. Apa aku salah jika harus menuruti titah sang raja egois yaitu cinta?.
Sudah hampir sebulan ini aku melancarkan serangan gerilya hingga pergerakan bawah tanah untuk mendekati Ve. Tanpa sepengetahuan Ega, kudekati Ve tanpa perasaan bersalah. Terlambat jika harus berhenti, bahkan dari awal aku memiliki kontak Ve yang sebenarnya kucuri dari Ega tak pernah terlintas sedikitpun pikiran untuk berhenti. Ve yang sangat menerima kehadiranku juga merupakan alasan perbuatan terkutukku untuk terus melangkah. Kepada Ega, ada saatnya kamu akan mengerti.
"nanti sore ada acara nggak"?
"nggak ada si Vi, lucu ya nama kita, Ve sama Vi. Mirip"
"hahahaha... iya, aku mau ngajak kamu keluar, tapi berdua aja, mau"?
"nggak apa-apa sih, tapi Ega gimana"?
"lama-lama dia bakalan ngerti kok"
___
Akhir-akhir ini tingkah Ve semakin jutek, aku lupa pernah berbuat salah apa, seingatku sebelum dia bertingkah aneh tak ada perselisihan paham diantara kami. Telunjukku mengetuk-ngetuk meja entah sejak kapan, apa sudah ada yang lebih menarik perhatiannya pikirku lagi, kalau memang ada, mungkin sebaiknya aku mundur sekarang. "kamu ngelamunin apa Ga"? "iya kayak mikir dunia mau runtuh aja" celoteh Indra dan Demas yang sahut menyahut seperti kicauan burung memecah lamunanku dan menghentikan telunjukku yang ikut bertanya mengapa, pada meja.
"Ah ancuk, Fa kemana? tumben nggak ikut ngopi"
"gatau, katanya ada urusan, lah gebetanmu mana? biasanya ngintil* muluk"
"gatau juga, kuhubungin nggak ada balasan"
"Cieeeeeee ada bau-bau ketikung cieeeeee"
Candaan kami kembali memecah suasana, tak sekedar mengganggu pengunjung lain, tetapi seperti mengusir pergi pengunjung yang berbicara pada sepi. Jika memang ada yang merebut Ve dariku, aku terima. Bukankah kita pantas memilih dan mendapatkan pasangan yang memang pantas untuk mendampingi kita. Lagipula sahabatku disini masih siap menertawakan mendung dan memaksanya pergi.
Media sosial memang memberi kita banyak informasi, siap atau tidak ia juga akan memberi tahu hal-hal yang tak pernah ingin kita paham. Lewat Path aku tahu sahabatku sendiri sering keluar sama Ve tanpa sepengetahuanku. Aku kecolongan, terlalu naif memang mengenalkan gebetan ke teman, tapi si Abidin sudah kuanggap seperti saudara, mengapa dia tega. Kubakar rokokku untuk membantu berpikir jernih, memilah-milah mana yang pastas aku lakukan atau sebaiknya aku simpan. Amarahku bisa saja bertamu ke pelipisnya atau bahkan ulu hatinya, tapi kuurungkan mengingat dia sahabat baikku. Apa perlu persahabatan harus pecah karena seorang wanita, dendam mungkin ada, tapi biarlah kunikmati sendiri. Bukankah tuhan menciptakan setiap manusia berpasang-pasangan, mungkin tuhan menyiapkan jodoh yang jauh lebih baik (untuk Ve), aaaah sialan!!!.
Sore itu seperti biasa, di cafe yang sama dengan orang-orang yang sama pula, hanya saja hari ini tanpa Ve. Entah hanya perasaanku saja atau memang kopi ku hari ini sangat pahit dan raut wajah Fahlevi menyembunyikan sesuatu dari kami semua. Tak ada sekolah yang mendidik agar muridnya menjadi pembohong atau penyimpan rahasia yang handal, karena itu pepatah berani bilang "sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga". Rasa penasaranku selalu saja lebih besar ketimbang kesiapanku untuk menerima kebenaran itu sendiri. Aku selalu ingin tahu lebih, itu pula yang memaksaku memancing pada air keruh.
"Fa, kayaknya akhir-akhir ini Ve mulai menjauh, apa lebih baik aku mundur aja"
Tak kusangka, umpanku hanya dipermainkan. Jawaban Fahlevi bukan jawaban yang ingin kudengar. bukan pula pengakuan bersalah, atau permintaan maaf. Dia malah menyemangatiku untuk terus berusaha, kejar jika itu memang pantas untuk dikejar, ucapnya. Aku memicingkan mata sambil menghisap rokokku dalam-dalam sebelum menarik kesimpulan. Memaksa nyaman memakai topeng yang ia kenakan, aku tak habis pikir, ada lagi sifat dasar manusia yang sulit untuk dipahami manusia lainnya.
Mengapa manusia sangat sulit menyampaikan? Jika itu teguran, mengapa terus melalui sindiran?. Seperti anak pramuka yang belajar menggunakan sandi dikehidupan nyata, Ega terus mengungkit masalah Ve dengan sindiran telaknya. Tapi apa aku peduli?, toh anak-anak yang lain nggak tahu apa maksudnya Ega, mungkin Ega sudah mencium lubang dibawah telapak kakinya. Serangan bawah tanahku, ketahuan.
Pengecut sepertiku memang seharusnya lari dan mengelak, aku akan mati konyol jika melawan. Karena itu aku sudah sangat jarang nongkrong dengan sahabatku.
Cinta terlalu egois, demi dia aku dipaksa mengorbankan sahabatku, sosok Ve, apa benar pantas dengan segala yang telah aku bayar mahal. Hingga akhirnya aku sadar dugaanku salah, Ve tak sesempurna itu, aku mengartikan lebih sebuah perhatian. Mungkin Ve adalah penyihir yang berjalan-jalan ke negeri dimana persahabatan perlu diuji. Ve tak lagi selalu ada untukku, aku pun terlalu malu jika kembali lagi pada sahabatku.
Sore ini, di cafe tempat nongkrong seperti biasa, hanya saja aku sendiri. Sahabatku entah kemana, Berharap mereka datang, tapi aku pun ketakutan jika mereka datang. Pemikiran yang kadang serba salah saat hati patah tapi ingin selalu disembunyikan atau tak mau mengalah. Mengapa logikaku masih merasakan tenang? apa Ve tak membuatku menyesal, atau aku tenang karena aku punya Ega yang sama merasakan sakit sepertiku dan ditinggalkan wanita yang sama. Ah manusia, ada banyak sekali hal yang tak dapat dengan mudah dimengerti dan dipahami pada setiap diri.
Mereka datang, kulihat tingkah Ega seperti telah memaafkanku.
Bukankah aku yang mengenalnya lebih dahulu, dan aku kini jauh lebih tahu banyak tentang Veluna ketimbang Fahlevi. Aku sekelas dengannya, sedangkan Fahlevi mahasiswa fakultas sebelah yang hanya tahu tentang Ve dari mendengar dan dari sikap yang hanya ingin diperlihatkan Ve. Aku lebih paham jika sekarang Ve dekat dengan orang lain selain kami. Semoga dia tak lagi menghancurkan persahabatan orang yang dekat dengannya sekarang seperti yang dia lakukan pada kami kemarin. Fahlevi kembali lagi nongkrong bersama kami. tapi....
"Abidin!, tumben pesen kopi pahit? Lu patah hati? hahahahaha"
Kursi saja belum hangat kami duduki, tapi suasana disekitar kami sudah sangat hangat. Bukaan pertama dilalui dengan tawa yang bersahut-sahutan, sekarang benar seperti orang utan. Candaku dan senyum pada Fahlevi ingin memberinya paham jangan pernah menyesali yang sudah terjadi, dan aku baik-baik saja. Karena kamu juga sakit olehnya, kita impas. Dasar manusia, menghabiskan waktu yang sangat lama jika harus mempelajari sifat dasar yang tak akan pernah bisa dimengerti, ada jalan pintas yang lebih pantas yaitu memaafkan, mengapa tak dicoba saja.
Kepada sahabat, kita angkat sloki saling menggali rasa benci lalu merelakannya pergi. Karena maaf tak akan membiarkan kita saling menyakiti.
* ngintil : selalu mengikuti seperti anak ayam pada induknya.
Sore itu seperti biasa, di cafe yang sama dengan orang-orang yang sama pula, hanya saja hari ini tanpa Ve. Entah hanya perasaanku saja atau memang kopi ku hari ini sangat pahit dan raut wajah Fahlevi menyembunyikan sesuatu dari kami semua. Tak ada sekolah yang mendidik agar muridnya menjadi pembohong atau penyimpan rahasia yang handal, karena itu pepatah berani bilang "sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga". Rasa penasaranku selalu saja lebih besar ketimbang kesiapanku untuk menerima kebenaran itu sendiri. Aku selalu ingin tahu lebih, itu pula yang memaksaku memancing pada air keruh.
"Fa, kayaknya akhir-akhir ini Ve mulai menjauh, apa lebih baik aku mundur aja"
Tak kusangka, umpanku hanya dipermainkan. Jawaban Fahlevi bukan jawaban yang ingin kudengar. bukan pula pengakuan bersalah, atau permintaan maaf. Dia malah menyemangatiku untuk terus berusaha, kejar jika itu memang pantas untuk dikejar, ucapnya. Aku memicingkan mata sambil menghisap rokokku dalam-dalam sebelum menarik kesimpulan. Memaksa nyaman memakai topeng yang ia kenakan, aku tak habis pikir, ada lagi sifat dasar manusia yang sulit untuk dipahami manusia lainnya.
___
Mengapa manusia sangat sulit menyampaikan? Jika itu teguran, mengapa terus melalui sindiran?. Seperti anak pramuka yang belajar menggunakan sandi dikehidupan nyata, Ega terus mengungkit masalah Ve dengan sindiran telaknya. Tapi apa aku peduli?, toh anak-anak yang lain nggak tahu apa maksudnya Ega, mungkin Ega sudah mencium lubang dibawah telapak kakinya. Serangan bawah tanahku, ketahuan.
Pengecut sepertiku memang seharusnya lari dan mengelak, aku akan mati konyol jika melawan. Karena itu aku sudah sangat jarang nongkrong dengan sahabatku.
Cinta terlalu egois, demi dia aku dipaksa mengorbankan sahabatku, sosok Ve, apa benar pantas dengan segala yang telah aku bayar mahal. Hingga akhirnya aku sadar dugaanku salah, Ve tak sesempurna itu, aku mengartikan lebih sebuah perhatian. Mungkin Ve adalah penyihir yang berjalan-jalan ke negeri dimana persahabatan perlu diuji. Ve tak lagi selalu ada untukku, aku pun terlalu malu jika kembali lagi pada sahabatku.
Sore ini, di cafe tempat nongkrong seperti biasa, hanya saja aku sendiri. Sahabatku entah kemana, Berharap mereka datang, tapi aku pun ketakutan jika mereka datang. Pemikiran yang kadang serba salah saat hati patah tapi ingin selalu disembunyikan atau tak mau mengalah. Mengapa logikaku masih merasakan tenang? apa Ve tak membuatku menyesal, atau aku tenang karena aku punya Ega yang sama merasakan sakit sepertiku dan ditinggalkan wanita yang sama. Ah manusia, ada banyak sekali hal yang tak dapat dengan mudah dimengerti dan dipahami pada setiap diri.
Mereka datang, kulihat tingkah Ega seperti telah memaafkanku.
___
Bukankah aku yang mengenalnya lebih dahulu, dan aku kini jauh lebih tahu banyak tentang Veluna ketimbang Fahlevi. Aku sekelas dengannya, sedangkan Fahlevi mahasiswa fakultas sebelah yang hanya tahu tentang Ve dari mendengar dan dari sikap yang hanya ingin diperlihatkan Ve. Aku lebih paham jika sekarang Ve dekat dengan orang lain selain kami. Semoga dia tak lagi menghancurkan persahabatan orang yang dekat dengannya sekarang seperti yang dia lakukan pada kami kemarin. Fahlevi kembali lagi nongkrong bersama kami. tapi....
"Abidin!, tumben pesen kopi pahit? Lu patah hati? hahahahaha"
Kursi saja belum hangat kami duduki, tapi suasana disekitar kami sudah sangat hangat. Bukaan pertama dilalui dengan tawa yang bersahut-sahutan, sekarang benar seperti orang utan. Candaku dan senyum pada Fahlevi ingin memberinya paham jangan pernah menyesali yang sudah terjadi, dan aku baik-baik saja. Karena kamu juga sakit olehnya, kita impas. Dasar manusia, menghabiskan waktu yang sangat lama jika harus mempelajari sifat dasar yang tak akan pernah bisa dimengerti, ada jalan pintas yang lebih pantas yaitu memaafkan, mengapa tak dicoba saja.
Kepada sahabat, kita angkat sloki saling menggali rasa benci lalu merelakannya pergi. Karena maaf tak akan membiarkan kita saling menyakiti.
***
* ngintil : selalu mengikuti seperti anak ayam pada induknya.




0 Bisikan:
Posting Komentar