Saat Kutulis cerita ini, aku sempat tertidur. Lalu aku dibangunkan oleh suara ibu, seorang wanita cerewet yang selalu menyirami bunga dipekarangan rumah pagi dan sore hari. Suaranya memang tak nyata, ia hanya meneriakkan namaku lewat mimpi. Benar, ia memang cerewet, tapi saat ia tak disisiku, aku sangat merindukannya.
Usia memaksaku untuk berpisah dengannya, merantau demi kebahagiaannya suatu saat nanti. Aku merindukan ibu, serta masa kecilku yang tak pernah berpikir kelak raga ini akan dewasa dan berpisah karena waktu. Bahkan aku merindukan ia memarahiku.
Kini, sudah tak pantas lagi aku dimarahi seperti anak kecil, dewasa telah membunuh masa kecilku. Menghapus harap kerinduan yang hanya didapat anak berumur belasan. Aku ingat pesannya “saat kamu dewasa nanti, giliran kamu yang merawatku” aku hanya mengangguk seolah siap. Pada kenyataannya, masih masih terlalu besar inginku untuk terus kau rawat, untuk terus diperhatikan dan dimanja.
Tak ada yang dapat kita lakukan untuk menghentikannya. Kawan, berbahagialah menikmati setiap tahun, ah tidak, setiap detik pertambahan usiamu. Setiap bahagia yang hanya dapat dikenang, tanpa dikembalikan atau diputar ulang. Kemudian kita yang selalu mengenang, pada akhirnya akan dikenang pula.
Satu lagi, bertambah satu lagi kawan, kau semakin dekat dengan pemberi kehidupan.
Seperti bunga-bunga di pekarangan rumah yang terus tumbuh. Seperti ibuku, mereka tak sabar untuk meninggi, hari ke hari bersabar demi mempertontonkan eloknya. Semua serangga-pun menanti hari itu datang, menanti bunga-bunga itu bermekaran. Agar mereka dapat terbang kesana kemari dengan riang, berbahagia seperti membalas kesabaran dari sang bunga.
Kita semua tau, tak selamanya bunga itu akan mekar indah. Akan layu seiring bertambahnya usia, bahkan dipetik oleh manusia yang hanya ingin menikmati indahnya atau sekedar melambangkan kasih sayang dan cinta. Menolak keadaan dan egoisnya waktu, tak akan pernah mungkin, hanya kembali berharap menemukan tangkai yang pantas, sebagai penerus mekar indahnya.
Aku tak akan mengingat umurmu kawan, aku hanya ingat kita sahabat bercerita. Kepala kita setara, derajat kita tak berbeda. Tulisanku yang belepotan, kau mengubahnya menjadi bingkisan kecil, yang tanpa kusadari itu merupakan tumpahan kopiku. Jemarimu lebih terampil, tapi katamu, semangatku jauh lebih besar dari ilmu yang kau miliki. Pada tawa-tawa sederhana dan topik tak senonoh yang sering kita perbincangkan, aku mengerti kita hanya ingin saling mengenang masa kecil. Menolak usia angkuh yang terus bertambah—niat yang tersirat.
Nikmati saja, katamu. Semoga saja waktu kita masih lama, hari ini akan kita ceritakan esok, hari esok akan kita ceritakan esoknya lagi. Lalu pergi meninggalkan cerita dan kenangan.



0 Bisikan:
Posting Komentar