1/ Kota Egois
Di kotaku yang lama, tak pernah kumelangkahkan kaki secepat di kota ini, sampai-sampai tak dapat kunikmati setiap langkah pagi, sapaan pedagang asongan yang belum mandi, atau sekedar menatap nakal pada wanita kota yang pulang pagi. Sangat lucu kota baru ku ini, penduduknya menurutku sangat miskin, tapi mereka mengaku kaya dan bahagia. Pada setiap langkah cepat ditujukan hanya untuk garis finish, sedikit melambat, akupun terinjak.
Perihal kaya dan miskin, apa kabar kalian yang berjalan seperti pelari menenteng tas mahal di pagi hari. Mengunyah roti sambil sibuk memainkan ponsel, dua tangan ciptaan tuhan sampai-sampai tak cukup untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Mungkin itu arti dari pria tegap yang membawakan barang-barang mereka dari belakang. Uang mereka mungkin terlalu berlebihan hingga harus memiliki beberapa mobil keluaran terbaru. Di kota ku, kaya dan bahagia merupakan tawa dan waktu yang berkecukupan untuk dapat dinikmati setiap aroma kehidupan. Di sini, kaya dan bahagia mereka hanya diungkapkan dengan lambang dan simbol, tak mengerti bersama itu berarti, menikmati itu indah dan tertawa itu bahagia yang termurah tapi tak sanggup mereka beli.
2/ Hening yang Angkuh
Dikepalaku, ada banyak keramaian yang siap disampaikan lewat apa saja, kepada siapa saja yang ingin menerima luapan bahagia ini. Tapi, disini bukanlah kotaku, hening terlihat lebih angkuh disini. Hening memberi paham tawaku adalah hal konyol, bahagiaku bukan sesuatu yang penting.
Cangkirku telah menanggalkan isinya, mendikte bagaimana caranya menikmati sepi. Siapa yang tak mengenal sahabat sepi, hari ke hari pahitnya semakin nikmat, pekatnya semakin bersahabat. Di kota ini, hening yang angkuh mengajarkanku bersahabat dengan sepi, berbicara pada kolong langit yang mulai jingga karena semburat senja. Bersama sesapan kopi, disini tak begitu buruk.
3/ Pulang
Ada saja alasanku dalam diam sedikit mengingat hari baik untuk pulang, peta-peta perjalanan pulang telah di cetak dengan tinta rindu pada kepalaku. Aku seperti ikan salmon, yang hanya menunggu tua untuk pulang, sebentar lagi, bekalku sebentar lagi cukup. Disini dalam diam selalu menyenangkan, tapi lama-kelamaan aku merasa bosan.



0 Bisikan:
Posting Komentar