Mari kita belajar nikmati mengingat, meskipun aku latah melakukannya, tapi kini kurasa menyenangkan. Selamat malam cerewetku, bagaimana harimu? Biasanya jam segini aku mulai senyum – senyum sendiri seperti kehabisan obat penenang. Mengenangmu menjadi hobi baruku sekarang, tak perlu kujelaskan hobiku yang terdahulu. Kau pasti sudah dapat menebak bahwa suara cemprengmu selalu membuatku rindu.
Cafe biasa meja 2 katamu, aku datang terlambat saat itu. Aku tiba disana basah kuyup, seperti kucing kampung yang terjatuh ke saluran air.
“hai, maaf telat”
Sapaanku tak kau balas, kau hanya diam memandangku lirih kemudian meninggalkanku pergi. Aku sadar bukan hanya kedatanganku yang membuatmu marah besar, mungkin ragamu masih dapat kupeluk, tapi hatimu tidak. Banyak hal kecil yang kau besar – besarkan, seperti guyonan garing yang kadang kulontarkan kau tanggapi dengan tawa nyaring. Lima menit aku berdiam berharap keajaiban, tapi yang datang hanya bisik – bisik dari meja lain.
“hai, maaf telat” suara yang jelas kukenali tepat dibelakangku, sentak aku berbalik.
“sekarang kita impas kan” lanjutmu.
Entah, impas yang ada dibenakmu itu telatku yang kau balas, atau basah kuyupku yang kau samakan. Aku tak sadar kau berdiri diluar cafe membasahi baju mahalmu dengan air hujan, Rivia begitu penuh kejutan.
“hei, kamu nangis, malu ah udah gede”
“ah, ini sisa air hujan tadi”
Ini pertama kali ku menangis dihadapan wanita, rasa sayang memenuhi kepalaku kini. Satu lagi yang membuatku semakin jatuh cinta denganmu, aku tak mencintai karena fisik ataupun lesung pipit manis milikmu itu. Pola pikir yang tak pernah dapat kutebak, tak pernah kutemukan dari kepala semua wanita yang pernah dekat denganku, sisanya, tak ada lagi alasan untukku tak mencintaimu. Aku tak ingin mencari tahu alasannya, karena aku takut saat tak lagi kurasakan, aku tak lagi mencintaimu.
Kita berdua sama – sama basah kuyup duduk di meja 2, kali ini aku memesan cokelat panas sama sepertimu demi mengusir gigil yang menyergap sejak tadi.
“hujan sialan” kataku menghardik.
“ jangan begitu, mereka sama seperti kita, mereka anugerah tuhan”
“iya deh iya wanita hujanku”
Kulihat matamu mulai berkaca - kaca, entah apa yang ingin kau tangisi, mungkin kau sudah terlalu lelah dengan sifat kekanak – kanakanku. Hujan itu, katamu bukan waktu yang diberikan tuhan untuk menangis atau mengenang, tapi menari dibawahnya menikmati lalu merelakan pergi. apa ada hal selain hujan yang mampu menghapus peluh hingga segalanya luruh membiarkan cintamu utuh tanpa harus membiarkan ia terbunuh.
***
Sore itu kau meninggalkan ku sendiri, tak lagi dapat kubuatkan bantal yang nyaman dari bahuku untukmu, tak lagi ada alasanku meracik sebuah kecupan hangat yang mampu mengusir gigil saat kau menyudahi bermain dengan hujan dan pulang dengan basah kuyup. Bahkan cokelat panasmu belum sempat kau habiskan, cerita kita baru sampai ditengah jalan.
Mengenang tak selalu membosankan, kau selalu membenci orang – orang yang hanya dapat menikmati hujan dan mengenang. Hujan itu, bagiku hanya ribuan tanya yang tulus membasahi bumi, menjadi beban setiap kepala dan hati manusia. Maukah kau pulang, bermandikan hujan bersamaku lagi?.
Sekaran 2015. 11 jan 3.44



0 Bisikan:
Posting Komentar