4 Mar 2015

Pendakian, Penantian dan Perpisahan

Lelahku memaksa sejenak menarik nafas panjang, memberikan waktu agar memikirkan langkah pendakian selanjutnya atau berhenti sampai disini. Ah tanggung, sudah setengah jalan, gumamku. Untuk apa memikirkan rintangan selanjutnya, hadapi saja dahulu langkah-demi langkahnya. Nikmati saja setiap jengkal prosesnya, bukankah puncak adalah tujuan utama, bukankah ia menanti diujung jalan sana dan tak akan pergi kemana-mana. Tuhan menghidangkan segalanya diujung sana.

Mari kugenggam tanganmu, agar kita dapat saling menyamakan langkah, berbagi seteguk air sebagai pengusir dahaga. Tenang sayang, ini hanyalah cobaan, lelah hanyalah sugesti, amarah hanyalah halusinasi yang dibesar-besarkan. Kepulan asap rokokku tak pernah terputus layaknya kereta api uap, setidaknya beginilah caraku melipur lara, menjernihkan pikiran yang keruh akibat keringat yang terus menetes. Sedikit lagi sayang kita akan sampai puncak, kebohongan demi kebohongan terus terucap sebagai penyemangat. Pelan tapi pasti, diam dalam emosi, tangis dalam hati, bercampur menjadi satu.

“Ayo cepat, sedikit lagi, kalau lambat aku tinggal”. Begitulah kira-kira kata yang terucap dari bibirku dengan nada sedikit tinggi.

“Kamu tega ninggalin aku?”

“Kenapa harus gak tega, lagian langkah kita semakin berbeda, kamu terlalu banyak mengeluh dan keras kepala”.

Semakin kupercepat langkahku dan melepas genggaman tangannya, semakin jauh meninggalkannya dibelakang. Jika kau serius ingin sampai puncak, kutunggu kau diatas sana, dimana segalanya menuju kearah sana, sedikit ocehan perpisahan. Kesepian? Tidak, justru aku merasa bebas tanpa beban, melanjutkan langkah yang terasa ringan, lelah seketika luntur akibat senyuman kebebasan. Seperti berlari tetapi merasa terbang bersamaan dengan tenangnya kicauan burung-burung disekitar. Aku menikmatinya, ternyata melangkah sendiri jauh lebih menyenangkan.

Beberapa waktu lalu, puncak yang terlalu tinggi menjadi terlalu rendah bagiku, tak pernah puas dengan keindahan dari tempat menginjakkan kaki, terus melangkah mencari tempat yang lebih tinggi. Entah kebahagiaan atau kesombongan yang menemani langkahku. Dalam waktu beberapa jam bersama dengan keringat yang mengucur deras, aku telah sampai dipuncak, kulihat kebawah sosokmu tak lagi terlihat. Senyum kepuasan yang sedari tadi menghiasi wajahku perlahan memudar, berganti dengan wajah penuh harap menanti kedatanganmu. Dengan siapa aku berbagi keindahan disini jika tidak denganmu, aku melupakan tujuan kita kesini. Menikmatinya dan berbahagia bersama.

1 jam, 2 jam, 3 jam sosokmu tak juga nampak, semakin cemas saja rasa sepi dan rasa bersalah yang saling menghardik. Kebahagiaan sesaat tadi ternyata hanyalah godaan, aku melupakan sosok godaan sebagai bagian dari cobaan, aku terlalu ceroboh. Ingin rasanya kembali untuk menjemputmu, tapi tak mungkin, dengan terpaksa biarlah kutunggu kau disini, kunikmati hukumanku sebagai pecundang yang melarikan diri.

Kesepian? Sekarang sangat nyata kurasakan, entah batang rokok keberapa yang telah kubakar disini demi mengusir jenuh. Angin semakin kencang, udara dingin terus menusuk hingga tulang rusuk. Beberapa jam telah berlalu, akhirnya kau tiba. Tapi, siapa yang bersamamu itu? Menggenggam erat tanganmu, mengapa kau menikmati puncak ini bersamanya, bukan bersamaku.  Apa kau melupakanku, apa ini hukuman darimu karena telah meninggalkanmu. Pikiranku semakin tak keruan, akhirnya sampailah aku pada puncak tertinggi kebodohan, penyesalan. Sekali daki, dua puncak kudapati. 

Jika dapat ku ulang waktu, akan terus kugenggam tanganmu, aku akan mengalah demi menyamakan langkah bersamamu. Ini puncak kita, ini tujuan kita, kita pula yang saling memimpikannya. Kini hanyalah sisa-sisa penyesalan yang terus tumbuh memenuhi perasaan hingga meluap menjadi tangisan. Ijinkan aku kembali menggenggam tanganmu, aku mohon. Hingga akhirnya kalimat penyesalan seperti apapun tak lagi berguna.

“Sayang, aku capek, kita istirahat sebentar ya”. Suaramu memecah lamunanku, menarikku kembali dari jurang penyesalan.

"Iya, kita pelan-pelan aja, nanti juga pasti sampai, tak perduli seberapapun lamanya waktu yang harus kita tempuh".
 
Kini aku perduli, tak akan pernah kulepaskan genggamanmu lagi. Kebebasan yang begitu menggoda tak lagi kuhiraukan, aku sudah tau jalan ceritanya, aku akan terus melangkah bersamamu apapun yang terjadi. Lamunan lelah dan keegoisanku telah menceritakan segalanya. Kepada keegoisan, kali ini kau gagal memisahkan kami, kami akan semakin kuat seiring langkah perlahan yang saling menyemangati hingga puncak nanti.

Nikmati setiap prosesnya, jangan percepat langkahmu hanya karena godaan yang menggiurkan, jadikan ia penyemangatmu, bukan malah kau anggap beban. Kepada siapa lagi kau akan berbagi nikmat itu jika bukan dengannya. Kira-kira seperti itu sebuah pesan yang disiratkan melalui lamunan jorok tadi.

0 Bisikan:

Posting Komentar