Teruntuk Abah yang di Hatinya Ada Surga
Teruntuk sepasang mata, saksi atas tumbuhnya aku hingga mendewasa.
Teruntuk sepasang lengan, penyangga saat aku kehilangan arah.
Teruntuk sepasang kaki, penopang sendi saat jejak tak dapat berpijak.
Teruntuk kepala, teladan saat aku tak tahu harus berbuat apa.
Teruntuk tubuh, tak pernah kulupa hangat peluk yang selalu memberi asa.
Teruntuk Abah yang di hatinya ada surga.
Aku ingin bercerita betapa luka mengarungi hidup dalam sepi dan tiada
Tentang kegetiran melanda saat merasa lapar di tengah malam
Tentang beku tubuh saat hujan mendekap dengan dingin paling gigil
Tentang dahaga kerongkongan saat mentari menyengat dan membakar
Tentang pening yang mengetuk kepala pelan-pelan saat datang ujian demi ujian
Tentang sarapan telur mata sapi buatan Ibu yang tak lagi kutemui
Tentang ketiadaan genggam tangan menarik selimut untuk menghangatkan
Tentang ketiadaan teh hangat yang di bubuhi dua sendok gula
Tentang ketiadaan senyummu saat berkata, “Nak, Engkau pasti bisa.”
Tapi bagi cinta
Segala nestapa hanya cara
Memintaku berbenah untuk selalu tabah
Untuk setiap bulir peluh yang jatuh
Untuk setiap rinai air mata berderai di kedua pelupuk matamu
Untuk setiap beban berat yang kau tanggung di balik punggung
Untuk setiap langkah kaki yang goyah menapak tilasi segala daya dan upaya
Untuk setiap belai manja jemarimu yang kau usap di setiap helai anak rambutku
Untuk setiap nyala semangat yang kau percik di dalam dadaku
Untuk setiap keteguhan yang kau ajarkan perlahan
Untuk setiap ketegasan yang terukir dari urat menyembul di lenganmu
Untuk setiap kesabaran yang kau tunjukkan
Untuk setiap syukur yang meninggi meski engkau telah tak dapat disampingku
Untuk setiap tangis doa yang sesenggukan di setiap malam
Untuk setiap hal yang kau lakukan untuk memperjuangkan aku.
Percayalah,
Aku; anakmu
Mencintaimu dengan sungguh
Maka
Kupersembahkan untukmu;
Sebuah toga
Dari jerih dan air mata
Bukan untuk apa-apa
Selain ingin membuatmu bahagia
Jika saja masih diberi waktu untuk bersama
Saat ini kau pasti akan berteriak bangga
Kepada siapa saja
“Perkenalkan, ini anak saya.”
Patemon, 13 September 2016
Nb: Puisi ini teruntuk kawan meja 2 yang sedang bergembira, @allfiii_ selamat atas hasil pengorbanan selama ini.



Semoga lekas menyusul.
BalasHapusKeren :""
BalasHapus