Langit-langit kamar terasa semakin rendah saat kurebahkan tubuh ini dikasur yang menjadi tempat terfavorit setiap kumerindukannya atau sekedar mendongeng kepada diri tentang cerita masa kecil yang tak sedetikpun kulalui tanpa bersamanya. Pada lamunan yang membawakan masa lalu hadir dalam ruangan yang semakin sempit ini- aku merasa ruang kamarku semakin mengecil dari hari ke hari. Apa tubuh ini yang semakin membesar ? Atau indera ku sudah tak lagi berfungsi dengan baik. Telinga ini pun sering mendengar setiap amarah dari masa lalu yang seolah itu datangnya dari ruang tamu rumahku. "Sudah sebesar ini badanmu, bangun pagi saja masih sulit, apa harus ibumu ini naik darah setiap pagi untukmu" ?.
Sesekali kudengar suara yang tak asing ditelingaku memanggil nama lengkapku hanya sekedar menyuruhku bergegas untuk mandi. Suara itu memang tak nyata, terdengar melalui kotak kenangan yang tertulis diatasnya masa kecil. Aku tak lagi bandel, tak seperti dulu yang harus berulang kali suara ibuku memecah suasana hening kamarku tapi aku masih saja betah bermalas-malasan. Walaupun kini yang terus kudengar adalah suara kerinduan pada sosok pembimbingku yang galak, aku menurut- bergegas mandi kah itu, makan tepat waktu kah itu, bahkan bangun pagi sekalipun.
Akan tiba masanya kita sangat merindukan amarah yang berpondasi kasih sayang orang tua kepada anaknya.
"Apa kamu pulang larut malam lagi ? ibu nggak akan bukain pintu kalau kamu pulang hampir subuh" Ibuku bukan pembohong yang handal, atau penggertak yang menakutkan bagiku. Selalu saja kuanggap remeh- aku selalu pulang larut malam dan ibuku selalu membukakan pintu. Aku paling hafal kata sambutannya setiap pintu rumahku terbuka, "untung ibu belum tidur", dasar pembohong- maaf selalu membuatmu terjaga karena mengkhawatirkanku. Aku berjanji tak akan mengulanginya lagi.
"Selamat ulang tahun anakku, semakin besar semoga jadi kebanggaan orang tua, jangan lagi sulit dikasih tahu. Cepat lulus, pulang kerumah berkumpul lagi sama keluarga, ibu bapakmu sudah mulai tua- giliranmu yang menjaga kami". Sebulan yang lalu pesan itu sampai pada layar ponselku pagi buta dengan nama kontak 'ibu ku'.
Aku sadar bukan lagi anak kecil, jika melihat usia- aku tak lagi dapat dikatakan muda dan tak lagi berhak merengek pada ibu atas semua masalah yang kuhadapi ditanah perantauan ini. Ibu, aku mulai merasa jenuh disini, aku ingin sekali mengobrol denganmu diruang tengah- mendengarkan engkau mendongeng betapa bandelnya aku saat masih suka bermain lumpur dihalaman belakang rumah, dongeng tentang si anak yang tak menghiraukan nasihat orang tuanya. Ternyata dalam lamunan kesepian selalu menawarkan pulang.
Usia mulai menyindir kapan aku akan pulang, tapi terus saja berpura-pura tuli. Pada tanah perantauan, yang terus kurindukan adalah kampung halaman. Tapi selalu terselip sadar bekalku masih jauh dari sekedar cukup. Dalam setiap doa hanya kedua orang tua yang namanya selalu terlintas dalam ketulusan ucapan terima kasih seorang anak.
Ibu, maaf anakmu belum bisa menepati janjinya, lagi-lagi aku akan pulang sedikit larut malam. Tetaplah terjaga menunggu anakmu pulang, maaf menyusahkan- tapi aku rindu engkau membukakan aku pintu diiringi kalimat pelan "untung ibu belum tidur".




hahaha kuliah sg tenanan nang, banggakan orang tuamu disana jangan sampai mereka kecewa :)
BalasHapusiya iya aku tau, aku sadar, aku sudah tua. :((
Hapus