Dear, Shilvie
Sudah kuterima suratmu, puteri 'R' ku. Kubaca pun berulang-ulang sambil membayangkan mimik wajahmu saat menulis lalu membaca ulang suratnya. Aku sampai hafal kata per kata dalam suratmu itu. Vie, bahagia ku mendengar kabarmu baik-baik saja di kota hujan sana. Begitulah yang tertera pada surat yang kini kuselipkan pada sarung bantalku. Sudah sangat lama aku tak bermimpi, kini aku berharap senyummu hadir mengucapkan selamat malam atau "cepat bangun pemalas" dalam setiap nyenyakku.
Jika tawamu pernah menjadi bagian hidupku, berarti setahun ini aku telah mati atau hidup tanpa arti. Jika berharap adalah nyawaku, biarkan aku bernafas dengan masa lalu kita. Dan jika bahagiamu adalah bahagiaku, berarti aku manusia munafik yang memiliki banyak topeng untuk menutupi hujan deras pada langit yang katamu terlalu kecil ini. Angin saja sampai hafal kepada siapa harus kutitipkan rindu ini. Apa tak pernah sampai? Atau angin selalu berbohong pada pohon yang nyaris kehabisan daunnya ini?.
Aku mengharapkan surat balasanmu, menunggu kabar kau baik-baik saja disana menungguku. Senja sore ini tak lagi nampak, bersama kopi hitam kubaca lagi suratmu. Tertera namaku disana, "Kepada: Pujoz, ditempat". Begitulah yang tertulis pada bagian depan undangan pernikahanmu.
Kamu curang, aku masih sangat mengingat pesanmu. Bukankah
tahun lalu kamu bilang akan menungguku lulus kuliah? setahun ini pun
aku bangun pagi, tak pernah bolos kuliah, selalu mengerjakan tugas.
Sebentar lagi aku lulus Vie, tapi mengapa suratmu datang?. Bodoh memang,
aku berharap suratku berbalas, tapi sekarang aku berharap kau tak
membalasnya.
Ada yang pernah bilang, "Jika ia memang hak mu, suatu saat ia pasti akan kembali untukmu" orang itu pula yang menjadi alasanku ingin cepat lulus kuliah. Bukankah kamu mengenalnya Vie? terkadang kalian memasak makan malam dirumahku bersama. Sempat ku menguping janjimu padanya untuk selalu menjagaku, dan sekedar mengingatkanku untuk kuliah. Ibuku pun menitip pesan padaku untuk terus menjagamu. Kini hanya senyum ibuku sebagai semangatku untuk terus kuliah. Dan hanya bahagia ibuku yang akan terus kujaga sekarang. Bagiku itu sangat lebih dari cukup, untuk sekarang.
Di cafe ini, aku satu-satunya pengunjung yang bernafas dengan kenangan. Aku lelah jika harus selalu mengartikan sepi, mengumpulkan sebanyak mungkin teman agar mengusirmu pergi. Semuanya sia-sia Vie, melupakan tak semudah meninggalkan. Kamu memenangkan permainan kita dengan curang, aku memaafkanmu. Padahal kuniatkan kita memenangkan permainan ini bersama, bersama duduk dihadapan penghulu. bersama bahagia saat kedua keluarga kita saling akrab.
Mungkin undangan itu merupakan ajakanmu untuk berdamai, agar aku memaafkan kenangan. Mengikhlaskan usahaku yang selalu sia-sia. Kubangun cerita dengan pensil yang patah, kutenggelamkan buku kita disungai yang belum berbau. Kutuliskan ceritaku dari awal pada permukaan sungai, aku sangat bodoh, tapi bagaimana mungkin aku bisa membeli buku baru. Aku belum bekerja, masih tak bergaji seperti alasanmu untuk pergi.
Malamku akan terasa panjang, mendongeng pada diri sendiri dengan cerita tuan puteri yang meninggalkan pangeran kodok nya. Si kodok berbahagia untuk tuan puterinya, mengikhlaskan sedang dicoba. Yang jelas, pangeran kodok akan datang pada hari bahagia tuan puterinya tanpa bersama masa lalu. Masa lalu telah tenggelam di sungai itu.
Terkadang, kejujuran adalah ajakan perang dengan hati sendiri yang memang tak pernah sejalan dengan logika. dalam surat ini, maaf jika aku banyak omong, maaf jika mempersilahkanmu duduk di kursi terdakwa. Tak adil memang mengirim surat ini tanpa mendengar penjelasanmu. Hanya satu pinta penggugat, bahagiakan pasanganmu, kamu telah di vonis seumur hidup untuk melakukannya.
Seburuk apapun kenangan,
akan terus gagal
jika ada usaha melupakan
atau memaksa tinggal
Rindu akan kembali pada tuannya
karena rindu terlalu menarik
atau
tanpa aku, kau bahagia
padamu, kubukan pemilik.



Pedih perih sakit
BalasHapusHahahahaha saya suka membunuh karakter dan alasan kalian move on saya hancurkan.
BalasHapusKepada Bejoz yang aneh. Jangan pernah berhenti belajar dari membaca. Jika hari ini katamu tulisan ini tak bernyawa, itu salahmu dalam mengandung. Penulis adalah manusia haram, hamil kapan saja, sesukanya, tanpa ada ikatan. Bahkan dengan sepi ia bersetubuh: mampu mengandung dan tulisanlah hasil peranakan.
BalasHapusJadi tukang tulis yang akan dikatakan penulis itu gak mudah. Harus banyak membaca, serta menasehati tulisan-tulisannya. Terus edit hingga bosan. Perihal ia lahir kemudian mati, serahkan saja dengan pembaca. Untung-untung dapat hidup itu bonus dari jerih-payah.
Cobalah fokus dalam menulis. Menentukan tema memang mudah, tapi menghidupkannya itu butuh bakat. Perlu di sana kauberi sentuhan bir yang memabukkan. Sentilan-sentilan yang mengejutkan. Atau premis-premis semacam joke singkat.
Dari awal membaca tulisanmu, sebenarnya aku hanya merasa kamu ini gemar mengulang-ulang kisah. Padahal kisah awalnya belum kelar. Contoh di paragraf membahas kabar, eh di paragraf dua masih menyinggung hal yang sama; dan hal lainnya.
Ah, aku kenapa menjadi bawel. Hehe.. Aku menunggu karya lainmu lagi.