7 Sep 2014

Meja No 2


"Spot terindah menikmati senja adalah berada dihadapanmu, menikmati jingganya senja terpancar dari kedua matamu dan bayangmu pada tanah kering".

"Nyoklat yuk"

"Boleh, tapi jemput ya"

"iya, 15 menit lagi kujemput"

Hampir setiap sore kita melakukan rutinitas mengusir jenuh agar enyah dari pikiran dan keseharian kita. Jika pada hidup saja kita dapat merasa jenuh, tetapi mengapa tidak dengan setiap senja yang kita nikmati ditemani sepasang cangkir coklat ini. Mungkin ada hal lain yang kita nikmati selain obrolan renyah, coklat dan senja milik kita, mungkin.

Setiap sore, aku kembali jatuh cinta untuk kesekian kalinya pada sosokmu. Cinta ku telah melalui proses yang rumit dan panjang, tak dapat dijelaskan secara ilmiah tetapi manusiawi. Atas nama senja kita lalui bersama dengan bahagia tanpa aku mengerti mengapa, apa dan bagaimana.

Kali ini kita kembali duduk pada satu meja, meja yang sama setiap harinya. Meja No 2, ia begitu tahu banyak tentang kita, ia jauh lebih mengerti ketimbang diri kita sendiri, seandainya ia dapat berbicara. Kali ini aku tak duduk dihadapanmu, aku disampingmu, aku ingin merasakan degup jantungmu, aku ingin memberi paham pada seluruh pengunjung cafe bahwa kamu milikku.

Aku menghela nafas, melanjutkan obrolan sore kita. Kamu menjadikanku pendengar yang baik, padahal jauh lebih banyak hal yang ingin kubagi denganmu. Tapi sebagai pendengar, aku merasa nyaman, karena aku tak perlu membagi tugas bercerita dan memandang wajahmu. Sebagai pendengar, kurasa kamu merasa nyaman menjadi 'Pendongeng' bagi pria mu ini.

Saat kamu tak ada, aku hanya tidur, iya aku seorang pemalas. Mempercepat waktu agar tak kurasakan rindu untukmu, itu caraku. Katamu, aku hanya rajin jika diajak nyoklat dan menikmati senja. katamu juga, aku hanya kecanduan coklat. Tapi kamu salah, selama ini yang menjadi candu sebenarnya itu adalah kamu. Kamu memainkan peran mu dengan sempurna seolah-olah bagi ku meja ini menjadi sosok benda hidup, teman yang memberi sebait arti. Apa kamu ingat ketika kita bermain kartu? Bagi siapa yang kalah hukumannya menjawab dengan jujur pertanyaan pemenang. Saat itu kau desak aku untuk menjawab pertanyaan yang konyol tapi terlalu naif jika ku ungkapkan ditengah candaan kita, bukankah itu hanya merusak suasana nyaman yang sudah berjam-jam kita bangun.

Tanpa terasa waktu berlalu dan senja itu sudah tergantikan malam tanpa rembulan. Seperti biasanya kita pulang dengan motor butut ku, kamu duduk di belakang bagaikan ratu tanpa mahkota, terasa lembut tapi hangat setelah ku dapati tangan mu memeluk erat perut yang tak dapat dikatakan sixpack ini. Sebelum tidur pun aku seperti orang gila yang tersenyum sendiri mengingat-ingat setiap detik senyum bahagia bersama mu.

Ku sesap kopi panas ku, tersadar aku akan lamunan berada dalam kenangan meja no 2 karena pahitnya. Asal kamu tahu sekarang aku menjadi pecandu kopi setelah kau memutuskan untuk menepi. Masih dimeja yang sama, hati yang sama dengan sepi yang berbeda. Semakin pahit saja kopi ini setiap pegawai cafe menanyakan kehadiranmu, padahal aku juga sedang mencari jawabannya.

Senja mencoba mengertiku, memeluk raga ini sambil mengatakan semua akan baik-baik saja. Apa kamu sudah menerima pesan rinduku yang selalu kutitipkan lewat senja? Saat ku menikmati senja, entah dimana kamu berada, aku selalu berharap kamu juga menikmatinya.

" Kini aku percaya, sepi pun dapat berbicara saat kita kehilangan arti bahagia".

0 Bisikan:

Posting Komentar