Dear, Shilvie
Kamu sedang apa saat suratku ini datang dan mengganggu kesibukanmu? Terima kasih meluangkan waktu barang 5 menit untuk membaca jeritan jemariku ini. Vie, sudah lama tak kudengar kabarmu, apalagi suara mu yang khas tanpa huruf 'R' itu. Apa kini sudah kamu temukan sosok sempurna seperti pangeran yang ada di imajinasimu itu?. Jika sudah, sampaikan salamku padanya. Katakan juga padanya, "Selamat, sudah berhasil merebut hatinya Shilvie. Jaga hatinya baik-baik, jika kamu lepaskan, kamu terlalu bodoh membuang seseorang yang berharga dan tak dapat dimiliki oleh setiap orang".
Vie, aku rindu cerewetmu, ngambekmu jika kita tak bertemu barang sehari saja. Ceramah mu yang membuatku senyum-senyum sendiri karena setiap kata yang menggunakan huruf 'R' membuatmu seperti melucu walaupun sedang marah. Walaupun sebagai teman, kita dulu sangat dekat dan saling perhatian melebihi arti status pertemanan itu sendiri. Tapi terlalu berlebihan jika kita menyebut diri sebagai sepasang kekasih. Pada akhirnya terjebaklah aku pada keadaan yang menekan ego untuk memilikimu.
"Selamat pagi jagoanku"
Dulu, setiap pagi ponselku menerima pesan itu darimu. Bukankah itu panggilan yang dikhususkan untukku. Aku masih ingat mengapa kau memanggilku 'jagoan'.
Waktu itu kamu bertanya apa cita-cita masa kecilku. Kujawab dengan polos 'Pahlawan Super', kamu tertawa nyaring ditengah-tengah mall hingga kita menjadi pusat perhatian pengunjung. Lalu kamu bertanya apa cita-cita itu masih bertahan sampai sekarang, akupun hanya mengangguk pelan. Aku suka membuatmu penasaran, mengernyitkan dahi lalu memaksaku menceritakan kenapa dan apa, lalu bagaimana. aku menyukaimu dari segala sisi yang tak pernah kamu sangka-sangka. Masih ingatkah kamu, aku ingin menjadi apa? Tebakanmu dulu, Spiderman, Superman, Batman, Rabbitman, sampai Wonder woman, sampai sekarang aku masih suka senyum-senyum sendiri dan bingung, apa alasanmu mengira aku ingin menjadi Rabbitman (Playboy) atau Wonder woman. Semua tebakanmu salah, karena dari dulu aku selalu ingin menjadi 'Yourman'. Saat itu senyummu terlalu manis untuk memaksaku betah menatapmu.
Kita pernah saling merasa nyaman meskipun kita bukan sepasang kekasih, kita pernah sama-sama berpikir saling memiliki tanpa perlu takut kehilangan. Tanpa ada kata perpisahan. Tapi pada akhirnya kita berpisah. Penyebabnya aku, aku memang egois Vie, aku memang nyaman seperti kemarin, tetapi rasa nyaman ku sudah melalui proses yang panjang lalu menjadi cinta. Cinta juga yang selalu memanas-manasi hatiku saat kamu dekat dengan laki-laki lain. Aku takut kehilangan kamu Vie, aku takut sosok jagoanmu ini tergantikan.
Tetapi, entah kamu yang sudah terlalu nyaman dalam posisi seperti itu, atau aku kurang menarik bagimu. Aku hanya beranggapan aku kurang menarik bagimu, tapi juga takut kehilangan semua momen indah, perhatian dan saling memperhatikan. Vie, tak semua orang tahan berada di posisi seperti itu, lama kelamaan mereka akan bosan, termasuk aku. Karena itu aku memutuskan pergi.
Datangnya surat ini, bukan ajakan berdamai, bukan pula ketukan pintu agar kau persilahkan aku kembali, aku selalu rindu tingkah mu, dan "selamat pagi jagoanku" adalah hal yang paling kurindukan. Aku merasa kehilangan, bohong jika kukatakan aku baik-baik saja disini tanpamu. Mungkin waktunya tak tepat kemarin, mungkin juga bukan sekarang, mungkin nanti Vie. Akan tiba hari bahagia kita, di hari pernikahan kita, atau perjodohan anak kita, karena kita memang tak pernah berjodoh.
Masih banyak yang ingin kuceritakan Vie, tapi aku tak pernah sejahat itu menggandeng tanganmu mengajak berjalan-jalan ke masa lalu. Lagipula, aku satu-satunya pengunjung tetap ruangan kosong itu. Pada setiap sesapan kopi ku, ada tawamu disana, mungkin cangkir kopi ku adalah mesin waktu. Vie, aku sekarang pecandu kopi pahit. Masih di cafe yang sama, masih dimeja yang sama, No 2. Hanya saja bedanya, dulu kedua cangkir coklat panas selalu setia menemani cerita konyol kita. Setiap malam, aku di meja itu duduk sendiri ditemani kopi pahit, mengecap-ngecap lidah untuk menetralisir rasa pahit berharap akan menjadi manis adalah hobiku sekarang setelah merindu hadirmu kembali.
Shilvie manis cerewet rajin rambutnya lurus pipinya hampir tirus katanya ribet bicara ular lari lurus ular lari lurus ular lari lurus.
R R R R R R R R
Berpena, Pujoz



0 Bisikan:
Posting Komentar