"Pikirmu dia belum pantas berada disisimu, pernahkah terlintas, mungkin dia juga berpikir sepertimu"?
Menilai pantas atau tidaknya dia, itu yang selalu terlintas didalam benakku, saat kurasa dia tak menjadi pasangan sempurna seperti tokoh yang kuciptakan dalam cerita imajinasiku, aku melepasnya, mengacuhkan segala perhatiannya, atau lebih parahnya memasung cintanya dengan harapan tak pasti.
Tapi, aku lupa berpikir menjadi 'dia', saat aku bertanya "apa dia pantas"? mungkin dia disana juga menanyakan hal yang sama, bukankah setiap raga baru yang hadir mencoba merebut hati selalu
saja dibandingkan dengan masa lalu, menghitung debet kredit baik
buruknya?.
Egoisnya aku berpikir berhak memilah-milah, mengabaikan lalu membuang raga yang bagiku kurang pantas, terlalu baikkah itu, terlalu burukkah itu, atau susah diaturkah itu, hati memang tak dapat bermain logika, tak pernah terlintas dalam egoisku penilaiannya padaku seperti apa, dalam sifat kekanak-kanakanku, kerewelanku, hingga cerewetku, mengapa ia memilihku? atau mengapa ia tak memilihku?, mengapa segala perhatian dan kasih sayang itu ia bungkus rapih dan dikirimkan padaku? atau mengapa semua perhatianku tak pernah ditanggapi serius?.
Mungkin aku berhak memilih, ia pun begitu, bukankah cinta datang karena rasa kagum, nyaman, sayang hingga ketulusan, apa nyaman menjalani cinta karena kasihan?, seperti orang jawa bilang "tresno jalaran soko kulino" (cinta ada karena terbiasa), aku rasa tidak, jikapun cinta datang karena terbiasa, lalu dia pergi, yang akan kita rindukan bukanlah dia, bukan pula merasa kehilangan cinta itu sendiri, tetapi kita kehilangan sebuah kebiasaan dan sebuah perhatian.
"aku pikir hal tergila dalam hidup ini adalah ikhlas melepaskan, ternyata lebih gila cinta karena rasa kasihan"
Kita berhak memilih pasangan sesuka imajinasi sempurna milik kita, tapi apa sudah pantaskah kita dipilih mereka yang menjadi sosok pilihan itu?, lalu mengapa hanya mereka yang terus diabaikan masih saja kekeh memberi perhatian?, mungkin usaha, sifat dan tingkah kita hanya dapat merebut perhatian mereka, tapi belum cukup untuk menarik perhatian sosok pasangan sempurna itu.
Berhentilah berpikir kita dapat memilih, tapi berpikirlah sudah pantaskah kita untuk dipilih.



0 Bisikan:
Posting Komentar