5 Jan 2015

Jika Kau Ragu

Ah, rangkaian kata seperti apa yang dapat kujadikan meriam besar untuk menghancurkan dinding keraguaan di seberang hati sana. Jika kau bertanya mengapa aku memilihmu, aku mencintaimu jawabannya, klise memang tapi memang seperti itulah kenyataan yang harus kita nikmati setiap proses dan rasa sakitnya. Bagaimana jika pertanyaan itu dibalik, atau begini saja, ada berapa banyak orang yang ingin berada di posisiku saat ini ? Bukankah mereka berlomba menjatuhkanku demi menggantikanku berada disisimu ?.


“untuk apa bersamanya, ia sering menghilang tanpa kabar, sering mengacuhkanmu, ia lebih memilih plesiran kesana kemari, ia lebih memilih hutan, puncak gunung, pantai, bahkan tersesat ketimbang berada disampingmu”.

Sudahkah kau baca kalimat itu pada pesan masuk yang mereka kirimkan untuk meracunimu ? Sudah berapa kali kau baca ? Apa kau paham ? Apa kini kau ragu padaku setelah membacanya ?. Mereka tak salah, semua yang mereka ucapkan benar, aku memang tak memiliki harta yang menjanjikan, aku pun tak memiliki masa depan seperti mereka, bahkan kulitku pun hitam karena seringkali terkena sengatan matahari. Mereka benar, siapalah aku, hanya seorang pegiat alam yang tergila-gila pada petualangan. Aku bahkan tak dapat memberikanmu kencan romantis di restoran mewah, tak dapat menemanimu belanja di mall seperti inginmu, tak betah menunggu berjam-jam hanya sekedar menemanimu di salon untuk mempercantik diri, bahkan mungkin pernah terlintas dalam benakmu aku terlalu acuh. 

Tapi, aku selalu berharap dapat mengajakmu menikmati dinginnya puncak-puncak tertinggi diatas mereka, menikmati indahnya fajar dan senja, sedikit sentilan samudera diatas awan. Menikmati desiran angin melintas di padang sabana yang luas, jika kurang, akan kuajak kau pergi kedasar laut terdalam, menari bersama mereka yang saling melengkapi disana, saling menceritakan cerita-cerita yang belum pernah terdengar dipermukaan. Mengajakmu menelusuri goa-goa dalam yang gelap, mengartikan gelap bukanlah perkara sulit jika kau ingin saling mengerti, mencintaimu sama seperti kita bergandengan tangan disana. Jika pegunungan bagimu kurang tinggi, akan kuajak kau terbang melintasi kota-kota, diterpa angin-angin damai dimana hanya ada kita yang saling menginginkan.

Asal kau tahu, aku tak akan pernah meninggalkanmu sendiri, kenali aku sedikit lagi, jangan hanya menggunakan kelima inderamu. Seperti tanah basah, daun cemara, kabut tipis, angin yang melantunkan nyanyian cinta, hingga hujan yang membasahimu jatuh meluruhkan segala peluh dan keluh. Seperti jejak yang membekas di rerumputan, seperti pengembala yang rindu kampung halaman, seperti semburat senja pada batas cakrawala. Selalu kau ingat, sejauh apapun aku pergi, aku akan selalu kembali untukmu, kamu telah menjadi rumah yang nyaman untukku, dimana pelukan hangatmu akan selalu kurindukan, nyanyian pengantar tidurmu akan selalu mendamaikan. Aku mencintaimu, tak seperti hal nya elang yang mengintai mendapatkan lalu pergi, tak seperti racun yang terlihat menjadi pilihan tepat pada akhirnya mematikan. Biarlah aku pada jalanku, mereka pada jalannya. Jika kau ragu, raihlah tanganku, pergilah denganku.

3 komentar:

  1. Balasan
    1. Maaf aku pernah ragu pada diri sendiri. Aku memilihmu. Sisanya keputusanmu.

      Hapus
    2. Sudah kuputuskan sejak dari awal, aku harus denganmu, apapun resikonya. Lalu apa yg sempat kau ragukan dari dirimu? Jika masih ragu, raih tanganku.

      Hapus